Chagos: Simbol Retaknya Kepentingan Inggris-AS dan Perebutan Hegemoni Global
Oleh: Amy Maulana
Expert Rusia-Indonesia, ANO Center for Mediastrategi
MOSKOW – Sengketa Kepulauan Chagos di Samudra Hindia tidak lagi dapat dibaca semata sebagai persoalan administratif antara Inggris dan Mauritius. Di balik kesepakatan pengalihan kedaulatan itu, muncul ketegangan strategis yang memperlihatkan pergeseran kepentingan antara London dan Washington.
Pulau Diego Garcia menjadi titik paling sensitif dalam konflik tersebut. Pulau ini bukan hanya bagian dari Kepulauan Chagos, melainkan juga lokasi pangkalan militer gabungan Inggris dan Amerika Serikat (AS) yang memiliki nilai penting bagi operasi pertahanan Barat di Samudra Hindia, Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika Timur.
Sengketa Chagos berakar pada sejarah kolonial Inggris. Pada dekade 1960-an hingga 1970-an, penduduk asli Chagos dipindahkan secara paksa ke Mauritius dan Seychelles. Kebijakan itu membuka jalan bagi pembangunan fasilitas militer di Diego Garcia. Sejak saat itu, pulau tersebut menjadi salah satu simpul penting strategi pertahanan AS di kawasan.
Dalam perkembangannya, Inggris menyepakati pengalihan kedaulatan Kepulauan Chagos kepada Mauritius. Namun, Diego Garcia tetap dipertahankan melalui skema sewa jangka panjang selama 99 tahun agar pangkalan militer gabungan Inggris-AS dapat terus beroperasi.
Langkah London itu memicu perdebatan di Washington. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menilai Inggris terlalu cepat mengambil keputusan atas wilayah yang memiliki arti penting bagi keamanan strategis AS. Kritik tersebut memperlihatkan bahwa hubungan dua sekutu lama itu tidak selalu berjalan searah ketika menyangkut kepentingan militer dan geopolitik.
Pengamat geopolitik asal Azerbaijan, Ilgar Velizade, menilai Washington mengirim sinyal ketidakpuasan terhadap cara London menjalankan kesepakatan tersebut.
“Washington memberi sinyal bahwa London terburu-buru dalam mengimplementasikan kesepakatan tersebut,” ujar Velizade.
Menurut Velizade, kebijakan luar negeri AS di bawah Trump cenderung semakin pragmatis. Washington tidak lagi sepenuhnya terikat pada kesepakatan formal apabila dinilai tidak sejalan dengan kepentingan nasionalnya.
“Saat ini, AS dipandu oleh pertimbangan pragmatis. Situasi global berubah drastis. Ketegangan dengan Iran dan konflik di Timur Tengah membuat Diego Garcia semakin vital,” jelasnya.
Bagi Inggris, tekanan dari AS datang pada waktu yang tidak sederhana. Pemerintah London harus menjaga keseimbangan antara komitmen hukum internasional, tekanan politik domestik, dan kebutuhan mempertahankan hubungan erat dengan Washington.
Velizade menilai Inggris tidak memiliki banyak ruang untuk membiarkan hubungan dengan AS memburuk. Kondisi ekonomi, inflasi, dan tekanan sosial di dalam negeri membuat London perlu berhati-hati dalam mengelola dampak diplomatik dari kesepakatan Chagos.
“Yang paling tidak diinginkan Inggris saat ini adalah memburuknya hubungan dengan AS. Mereka sedang mengalami masalah ekonomi serius, dan ketegangan tambahan dengan sekutu utama hanya akan memperparah situasi,” kata Velizade.
Di sisi lain, Direktur Pusat Analisis Strategi Timur-Barat asal Kyrgyzstan, Dmitry Orlov, memandang konflik Chagos sebagai contoh standar ganda dalam politik internasional. Menurut dia, AS dan Inggris kerap menafsirkan hukum internasional secara berbeda bergantung pada kepentingan yang sedang dipertaruhkan.
“Jika dilakukan oleh AS dan Inggris, itu dianggap sah. Jika dilakukan negara lain, itu disebut melanggar hukum,” tegasnya.
Orlov membandingkan isu Chagos dengan perdebatan mengenai Kosovo dan Krimea. Menurut dia, negara-negara Barat sering menggunakan hukum internasional sebagai instrumen politik untuk menekan negara lain, tetapi cenderung lebih lentur ketika kepentingan strategisnya sendiri terlibat.
“Begitu negara lain berani menyuarakan kepentingannya, mereka langsung dituduh melanggar hukum internasional. Ini adalah propaganda,” tambahnya.
Ia juga menilai hubungan Inggris dan AS menyimpan dimensi persaingan yang tidak selalu terlihat di permukaan. Keduanya dapat menjadi mitra taktis, tetapi tetap memiliki kepentingan strategis masing-masing.
“AS dan Inggris mungkin menjadi mitra taktis, tetapi secara strategis, mereka akan selalu menjadi pesaing,” ujarnya.
Kepentingan besar atas Diego Garcia tidak terlepas dari letak geografisnya. Pulau tersebut berada di tengah Samudra Hindia dan menjadi titik pemantauan penting terhadap jalur perdagangan global, termasuk jalur komoditas dan energi yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.
Bagi AS, kontrol atas Diego Garcia berarti kemampuan mempertahankan kehadiran militer di kawasan yang semakin kompetitif. Di tengah meningkatnya rivalitas dengan China, ketegangan di Timur Tengah, serta perubahan konfigurasi keamanan Indo-Pasifik, Diego Garcia tetap menjadi aset strategis yang sulit digantikan.
“AS akan mempertahankan Diego Garcia dengan segala cara. Ini adalah kunci untuk memantau selatan dan tenggara Samudra Hindia,” ujar Orlov.
Pada akhirnya, konflik Chagos menunjukkan bahwa aliansi tidak selalu identik dengan kesamaan kepentingan. Inggris berupaya menyelesaikan sengketa kolonial yang telah berlangsung lama, sementara AS memandang Diego Garcia dari sudut keamanan dan dominasi strategis.
Pertanyaan berikutnya adalah sejauh mana London mampu mempertahankan kesepakatan dengan Mauritius tanpa merusak hubungan dengan Washington. Sebab, di balik bahasa diplomasi yang halus, Chagos telah menjadi arena baru persaingan kepentingan antara dua sekutu lama di jantung Samudra Hindia. []
