Diplomasi AS-Iran Menguat, Harga Minyak Brent Anjlok 7,6 Persen
JAKARTA – Peluang dimulainya kembali perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran langsung mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent merosot 7,6 persen pada penutupan perdagangan Senin (02/11/2026), setelah muncul sinyal bahwa kedua negara bersedia kembali menempuh jalur diplomasi di tengah konflik yang telah berlangsung selama sembilan bulan.
Harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Januari menetap di US$104,77 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember tercatat relatif stabil di US$96,32 per barel pada Selasa (03/11/2026) pukul 07.45 waktu Singapura.
Pelemahan tersebut mencerminkan perubahan ekspektasi pelaku pasar terhadap risiko pasokan minyak. Sebelumnya, ketegangan AS-Iran mendorong kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi dari kawasan Teluk Persia. Namun, kemungkinan perundingan kembali berlangsung membuat tekanan risiko geopolitik mulai mereda.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pemerintahannya memperoleh kewenangan lebih luas dari Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei untuk terlibat dalam negosiasi. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga mengisyaratkan adanya perkembangan dalam pembicaraan dengan Teheran.
Perubahan sikap tersebut berlangsung ketika pemilih AS mendatangi tempat pemungutan suara untuk mengikuti pemilihan paruh waktu pada Selasa (03/11/2026). Trump dan Partai Republik menghadapi tekanan politik akibat tingginya harga energi yang turut dipengaruhi konflik di Timur Tengah.
Trump sebelumnya berulang kali menyatakan akan mengakhiri konflik, tetapi tetap membuka kemungkinan melanjutkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan. Ketika ditanya seorang wartawan apakah serangan terhadap Iran akan kembali dilakukan setelah pemilihan paruh waktu, Trump menjawab, “tidak”.
Meski demikian, prospek penyelesaian konflik belum sepenuhnya jelas. Sepanjang perang berlangsung, Trump beberapa kali menyampaikan klaim mengenai kemajuan diplomasi sekaligus melontarkan ancaman serangan baru, tetapi belum menghasilkan terobosan besar.
Dampak perubahan sentimen tidak hanya terlihat pada perdagangan minyak. Pasar energi Eropa juga mengalami tekanan setelah harga kontrak berjangka gas turun hampir 9 persen pada Senin. Pada periode yang sama, minyak pemanas AS mencatat penurunan harian paling tajam dalam enam bulan.
Koreksi harga minyak tersebut terjadi setelah Brent mencatat kenaikan hampir 14 persen sepanjang Oktober dan mencapai level tertinggi dalam enam bulan. Penguatan sebelumnya dipicu kekhawatiran meningkatnya kembali perselisihan AS-Iran, meskipun ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia mulai pulih.
Namun, peluang kesepakatan damai masih menghadapi sejumlah hambatan. Pezeshkian belum menjelaskan secara terperinci batas kewenangan baru yang diberikan Mojtaba Khamenei maupun apakah keputusan tersebut menandai perubahan sikap Iran dalam negosiasi tidak langsung dengan Washington. Pernyataan itu disampaikan melalui Kantor Berita Republik Islam yang dikelola negara.
Perbedaan tuntutan kedua negara juga belum terselesaikan. Teheran menginginkan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhannya dicabut, sanksi dilonggarkan, serta aset-aset Iran yang dibekukan dilepaskan sebelum membuka kembali Selat Hormuz secara penuh bagi pelayaran. Sebaliknya, Washington meminta konsesi terkait program nuklir Iran.
Perkembangan diplomasi kedua negara akan menjadi faktor penting bagi arah harga minyak selanjutnya. Selama belum ada kesepakatan konkret mengenai blokade, sanksi, program nuklir, dan akses pelayaran di Selat Hormuz, pasar energi masih berpotensi mengalami gejolak akibat perubahan situasi geopolitik. []
Redaksi01
