Emiten Plastik Hadapi Tekanan Biaya dan Serbuan Produk China

JAKARTA – Emiten industri plastik hilir menghadapi tekanan dari berbagai sisi sepanjang 2026, mulai dari kenaikan biaya produksi dan beban pendanaan hingga persaingan produk impor asal China. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan untuk mempertahankan margin laba ketika kemampuan konsumen menyerap kenaikan harga masih terbatas.

Tekanan tersebut terlihat dari laporan keuangan semester I-2026 sejumlah emiten plastik hilir. Kenaikan beban pokok penjualan atau Cost of Goods Sold (COGS) tercatat berada di kisaran 12% hingga 52%. Pada saat yang sama, utang bank jangka pendek sejumlah perusahaan juga meningkat secara double digit dibandingkan akhir 2025.

Meski menghadapi tekanan biaya, kinerja emiten di sektor ini belum sepenuhnya seragam. PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP), dan PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) masih mencatat pertumbuhan laba. Bahkan, AKPI berhasil berbalik dari rugi menjadi laba.

Sebaliknya, PT Asiaplast Industries Tbk (APLI) dan PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) mengalami penurunan laba pada periode yang sama.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia Henry Chevalier mengatakan kenaikan COGS menunjukkan biaya produksi masih menjadi persoalan bagi industri. Kondisi itu terjadi ketika harga bahan baku mulai mengalami penurunan pada September 2026.

“Kalau kenaikan COGS ini masih terus berlanjut maka dengan sendirinya dapat mengikis laba perusahaan, jadi kami masih menunggu realisasi PMK terkait bea masuk bahan baku 0% yang dapat membantu penurunan beban tersebut,” kata Henry dalam keterangan resmi, sebagaimana diberitakan Kontan, Selasa, (29/09/2026).

Menurut Henry, industri plastik hilir masih bergantung pada bahan baku impor. Karena itu, kepastian penerapan kebijakan bea masuk bahan baku menjadi salah satu faktor yang dinantikan pelaku industri.

Ia juga menyambut positif relaksasi bea masuk anti-dumping yang telah diterapkan pemerintah. Namun, kepastian mengenai kebijakan bea masuk bahan baku masih diperlukan oleh industri.

“Saya tidak tahu apakah karena sudah diberikan relaksasi bea masuk anti dumping maka yang 0% impor bahan baku itu hingga saat ini belum juga terealisasi, tapi paling tidak berikan kepastian untuk kami,” ujarnya.

Selain biaya bahan baku, tekanan eksternal juga datang dari pergerakan harga minyak dan pasokan naphtha. Analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi mengatakan perubahan harga kedua komponen tersebut dapat memengaruhi harga resin yang menjadi bahan baku produk kemasan plastik.

Masalahnya, kemampuan produsen untuk menaikkan harga jual tidak sepenuhnya leluasa ketika daya beli konsumen melemah. Kondisi itu dapat membuat kenaikan biaya produksi sulit diteruskan kepada konsumen.

“Pelemahan daya beli membuat perusahaan akan mengalami kesulitan untuk meneruskan kenaikan beban tersebut kepada konsumen akhir,” kata Yosua.

Kenaikan COGS yang rata-rata lebih dari 14% pada emiten plastik kemasan juga perlu dilihat bersama peningkatan utang jangka pendek. Kombinasi keduanya berpotensi memperbesar tekanan terhadap biaya pendanaan perusahaan.

Faktor suku bunga global turut menjadi perhatian. Suku bunga The Fed naik 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Menurut Yosua, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi biaya pinjaman perusahaan apabila turut berdampak terhadap tingkat suku bunga domestik.

“Ini akan berpotensi menekan volume penjualan yang berpengaruh pada kinerja keuangan. Selain itu, suku bunga the Fed yang meningkat dapat memicu suku bunga bank Indonesia meningkat pula, sehingga beban bunga emiten juga meningkat,” katanya.

Tekanan lainnya berasal dari produk impor. Kelebihan pasokan atau oversupply di China berpotensi mendorong produk plastik dari negara tersebut masuk ke pasar dengan harga lebih kompetitif.

Yosua menilai efisiensi produksi yang dimiliki produsen China dapat menjadi tantangan bagi perusahaan dalam negeri yang masih menghadapi biaya produksi tinggi.

“Produsen kita berpotensi tidak bisa menjual dengan harga yang kompetitif, bisa kalah saing dari produk China,” ujarnya.

Dengan berbagai tekanan tersebut, kondisi industri plastik sepanjang 2026 akan dipengaruhi oleh pergerakan harga bahan baku, nilai tukar, dan biaya pendanaan. Kekuatan neraca serta kemampuan perusahaan mengendalikan biaya menjadi faktor yang turut menentukan kinerja masing-masing emiten.

“Tahun ini bisa dilihat sebagai stress test bagi perusahaan plastik. Bukan hanya revenue growth yang perlu diperhatikan investor, tetapi apakah perusahaan mampu menjaga gross margin ketika resin naik dan pada saat yang sama mengendalikan leverage dan finance cost,” katanya.

Peluang perbaikan dapat terbuka pada 2027 apabila harga resin dan biaya logistik kembali lebih normal. Langkah efisiensi dan penyesuaian harga yang dilakukan perusahaan sepanjang 2026 juga berpotensi memberikan dampak terhadap margin ketika tekanan biaya input mulai mereda.

“Perusahaan sudah melakukan repricing dan efisiensi pada 2026, sehingga ketika input cost turun, penurunan tersebut berpotensi langsung terlihat pada gross margin dan laba,” tutup Yosua. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *