Harga Rumah Bali Naik, KPR Masih Jadi Pilihan Utama Warga
DENPASAR – Kenaikan harga rumah di Bali belum menyurutkan minat masyarakat menggunakan kredit pemilikan rumah (KPR), terutama kelompok ekonomi menengah. Skema pembiayaan perbankan tersebut masih menjadi pilihan utama dalam pembelian rumah di tengah meningkatnya harga properti residensial pada triwulan II-2026.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mencatat pembelian rumah melalui KPR mencapai 67,6 persen dari keseluruhan transaksi pada periode tersebut. Kondisi ini menunjukkan pembiayaan perbankan masih menjadi instrumen penting bagi masyarakat untuk memperoleh hunian ketika harga properti terus bergerak naik.
“Harga properti residensial di pasar primer pada triwulan II-2026 mengalami peningkatan,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani di Denpasar, Minggu (23/08/2026), sebagaimana diberitakan Antara, Minggu (23/08/2026).
Berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR), Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan II-2026 tumbuh 1,02 persen. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian pada triwulan I-2026 yang sebesar 0,87 persen.
Kenaikan harga terutama terjadi pada rumah kategori menengah dan besar. Rumah menengah yang dimaksud memiliki luas bangunan 36 hingga 70 meter persegi, sedangkan rumah besar memiliki luas bangunan lebih dari 70 meter persegi.
Menurut BI Bali, tekanan terhadap harga tidak hanya berasal dari meningkatnya permintaan. Biaya produksi juga menjadi faktor penting, terutama kenaikan harga bahan bangunan yang kemudian diikuti peningkatan upah tenaga kerja.
Selain komponen tersebut, pengembang menghadapi tambahan biaya dari perizinan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), serta kebutuhan penyediaan fasilitas dan fasilitas sosial di kawasan perumahan.
Situasi tersebut membuat pasar properti Bali menghadapi tantangan dari dua sisi. Di satu sisi, calon pembeli masih membutuhkan akses pembiayaan untuk memiliki rumah. Di sisi lain, harga hunian terus terdorong oleh meningkatnya biaya pembangunan.
Hasil survei BI juga menunjukkan sejumlah kendala yang masih dihadapi pengembang dalam memasarkan properti residensial primer. Tingginya suku bunga KPR, terbatasnya lahan, beban pajak, serta besarnya uang muka pembelian rumah menjadi beberapa faktor yang memengaruhi penjualan.
Dari sisi pembiayaan pembangunan, pengembang masih lebih banyak mengandalkan modal internal. Dana sendiri menyumbang 56,6 persen dari sumber pembiayaan pembangunan properti residensial di Bali. Setelah itu, pembiayaan berasal dari pinjaman bank, dana nasabah, serta pinjaman dari lembaga keuangan nonbank.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena harga properti diperkirakan masih meningkat pada triwulan III-2026. BI memperkirakan kenaikan dapat terjadi pada harga tanah maupun rumah, termasuk hunian yang dibeli secara tunai maupun melalui KPR.
Meski demikian, BI melihat ruang kenaikan harga tersebut relatif terbatas. Hal itu sejalan dengan sikap masyarakat yang semakin berhati-hati dalam menyesuaikan harga di tengah kondisi penjualan properti yang masih menghadapi sejumlah tekanan.
“Tapi ekspektasi kenaikan harga tersebut relatif terbatas, sejalan dengan kehati-hatian masyarakat dalam melakukan penyesuaian harga di tengah kondisi penjualan yang masih menghadapi berbagai tantangan,” kata Achris.
Dengan kondisi itu, KPR tetap memiliki posisi strategis dalam pasar hunian Bali. Namun, keberlanjutan akses pembiayaan dan kemampuan masyarakat menanggung cicilan menjadi faktor penting agar kenaikan harga properti tidak semakin mempersempit peluang kelompok ekonomi menengah untuk memiliki rumah. []
Redaksi01
