Bulfest 2026 Ditutup, Perputaran Ekonomi Diproyeksi Tembus Rp3,6 Miliar
BULELENG – Buleleng Festival (Bulfest) 2026 meninggalkan dampak ekonomi yang cukup besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Selama lima hari penyelenggaraan di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, perputaran ekonomi tercatat lebih dari Rp3,091 miliar dan diproyeksikan meningkat hingga melampaui Rp3,6 miliar setelah seluruh rangkaian kegiatan diperhitungkan.
Bupati Buleleng (Bupati Buleleng), I Nyoman Sutjidra, mengatakan aktivitas ekonomi tersebut menjadi salah satu gambaran manfaat festival bagi masyarakat setempat. Menurut dia, kegiatan yang memadukan seni, budaya, kuliner, dan kreativitas masyarakat turut membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya kepada pengunjung.
“Selama lima hari ini masyarakat telah menyaksikan dan merasakan kekayaan seni, budaya, kuliner, dan kreativitas warga Buleleng yang memancarkan energi positif bagi pariwisata dan perekonomian daerah,” ujar Sutjidra, Minggu (23/08/2026) di Buleleng, sebagaimana diberitakan Kompas, Senin (24/08/2026).
Sebanyak 105 UMKM lokal terlibat dalam Bulfest 2026. Mereka mengisi stan penjualan dengan beragam produk, mulai dari kerajinan, makanan dan minuman, produk olahan pangan hingga fesyen.
Ratusan pelaku usaha tersebut ditempatkan dalam tiga zona. Zona A menampung 48 stan, Zona B sebanyak 38 stan, sedangkan Zona C terdiri atas 19 stan.
Kehadiran UMKM dalam festival tidak hanya memberikan peluang transaksi selama kegiatan berlangsung. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melihat keterlibatan tersebut sebagai kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperluas pengenalan produk, membangun jejaring pasar, sekaligus membuka peluang bisnis baru.
Besarnya perputaran ekonomi yang tercipta selama festival juga menjadi indikator bahwa kegiatan berbasis budaya dapat memberikan manfaat langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Pergerakan pengunjung selama Bulfest menciptakan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk berinteraksi langsung dengan konsumen.
Selain menggerakkan sektor usaha, Bulfest 2026 membawa pesan pelestarian budaya melalui tema Uriping Rasa. Tema tersebut dipadukan dengan pertunjukan seni dan budaya serta berbagai bentuk kreativitas masyarakat Buleleng.
Bulfest 2026 resmi ditutup pada Minggu (23/08/2026) malam setelah berlangsung selama lima hari. Pemerintah daerah menilai keberhasilan kegiatan tidak semata-mata diukur dari jumlah transaksi, tetapi juga dari kemampuan festival mempertemukan kebudayaan lokal dengan perkembangan kreativitas masyarakat.
Sutjidra mengatakan Pemkab Buleleng ingin memastikan kebudayaan daerah tetap tumbuh dan mampu mengikuti perubahan zaman. Karena itu, semangat Uriping Rasa diharapkan tidak berhenti ketika panggung festival ditutup.
Menurut dia, masyarakat perlu melanjutkan semangat tersebut melalui pelestarian budaya, gotong royong, serta pengembangan berbagai potensi ekonomi lokal. Dengan demikian, dampak Bulfest diharapkan dapat berlanjut dalam bentuk aktivitas ekonomi dan kebudayaan di luar periode penyelenggaraan festival.
Proyeksi kenaikan perputaran ekonomi hingga lebih dari Rp3,6 miliar menjadi salah satu modal bagi Pemkab Buleleng untuk mengevaluasi penyelenggaraan festival berikutnya. Penguatan ruang bagi UMKM, promosi produk lokal, dan pelestarian budaya dapat menjadi bagian penting dalam menjaga manfaat Bulfest bagi masyarakat. []
Redaksi01
