HMI Mempawah Gelar Nobar “Pesta Babi”: Sebuah Refleksi Kemanusiaan untuk Papua dan Masa Depan Mempawah
Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) Bidang PTKP HMI Cabang Mempawah, Nazrul Hidayah. (Foto : Usmandi)
MEMPAWAH – Isu kemanusiaan dan perampasan tanah adat di Papua bukan sekadar cerita fiksi. Menyadari pentingnya menjaga api solidaritas, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mempawah melalui Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan (PTKP) mengajak seluruh elemen masyarakat untuk hadir dalam agenda Nonton Bareng (Nobar) film dokumenter bertajuk “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”.
Menawarkan atmosfer diskusi yang segar dan terbuka, agenda ini akan digelar di kawasan Taman Waterfront Mempawah, Jumat malam (22/5/2026), mulai pukul 19.00 WIB.
Film dokumenter ini memotret realitas kelam di Papua; mulai dari perampasan tanah, eksploitasi alam yang brutal, kehancuran ruang hidup masyarakat adat, hingga ketidakadilan masif yang dibungkus dengan narasi “pembangunan”.
Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) Bidang PTKP HMI Cabang Mempawah, Nazrul Hidayah, menegaskan bahwa agenda ini bukan sekadar tontonan akhir pekan biasa, melainkan sebuah pemantik kesadaran sosial.
“Film ini adalah ruang refleksi bersama. Kami ingin generasi muda dan masyarakat tidak menutup mata terhadap penindasan yang terjadi di negeri ini. Ini tentang membangun keberanian bersuara dan merawat solidaritas,” ujar Nazrul.
“Hari Ini Papua, Besok Bisa Jadi Mempawah”
Nazrul memberikan peringatan keras bahwa konflik agraria dan hilangnya hak adat yang hari ini terjadi di Papua, bisa saja mengancam daerah lain—termasuk Kabupaten Mempawah—jika masyarakatnya memilih untuk acuh tak acuh.
“Hari ini mungkin Papua yang merasakan. Tapi ke depan, bukan tidak mungkin Mempawah mengalami nasib serupa jika kita abai pada isu lingkungan dan tanah. Saat pembangunan tidak lagi berpihak pada rakyat, perampasan ruang hidup bisa terjadi di mana saja,” tegasnya.
Sebagai agen perubahan, mahasiswa menurutnya memiliki tanggung jawab moral untuk berdiri di barisan rakyat kecil. Oleh karena itu, HMI Mempawah mengundang aktivis, akademisi, pemuda, komunitas, hingga masyarakat umum untuk meramaikan Waterfront Mempawah malam ini.
“Mari jadikan ini ruang diskusi dan ruang belajar. Saat hak rakyat dirampas, suara solidaritas kita tidak boleh padam. Ketika rakyat menjerit dan penguasa memilih diam, maka suara perlawanan harus tetap dinyalakan,” pungkas Nazrul.[]
Penulis: Usmandi | Penyunting: Redaksi
