IdeaFest SUB 2026 Buka Ruang Kolaborasi Lintas Industri
SURABAYA – Kolaborasi lintas industri dan pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu strategi yang didorong dalam pengembangan ekonomi kreatif di Surabaya melalui IdeaFest SUB 2026. Festival yang mengusung tema The Next Leap itu mempertemukan pelaku usaha, kreator, inovator, komunitas, dan generasi muda untuk mendorong lahirnya gagasan yang dapat diwujudkan menjadi kerja sama nyata.
IdeaFest SUB 2026 berlangsung pada 7-8 Agustus 2026 di Grand City Convex, Surabaya, sedangkan program Kreatip by Artisan Market digelar hingga 9 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan lebih dari 200 pembicara, lebih dari 100 sesi diskusi, serta delapan ruang eksplorasi yang mencakup kewirausahaan, bisnis, teknologi, AI, pemasaran, ekonomi kreatif, kesehatan, dan pengembangan diri.
Festival Director IdeaFest Jakarta Olivia Febrina mengatakan penyelenggaraan tahun ini menghadirkan format baru yang membuat pengunjung tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai aktivitas. Format tersebut diperkenalkan melalui IdeaFest X.
“Kalau biasanya Idea Talks lebih satu arah, IdeaFest X dibuat dua arah. Peserta bisa ikut mengalami langsung, bukan hanya mendengar. Mulai dari kelas kesehatan seperti pilates, wellness, sampai berbagai eksplorasi industri kreatif,” ujar Olivia.
Menurut Olivia, skala IdeaFest SUB berkembang dibandingkan penyelenggaraan perdana pada 2025. Pada tahun sebelumnya, kegiatan tersebut memiliki sekitar lima ruang dengan 50 sesi dan 100 pembicara. Tahun ini jumlahnya meningkat menjadi delapan ruang, lebih dari 100 sesi, dan lebih dari 200 pembicara.
“Tahun lalu jumlah pengunjung IdeaFest mencapai sekitar 14 ribu orang. Tahun ini kami ingin membawa sesuatu yang baru, sebuah lompatan yang benar-benar memberikan pengalaman berbeda,” katanya.
Salah satu perubahan yang ditawarkan adalah pembahasan teknologi AI yang diarahkan agar lebih mudah diterapkan dalam kehidupan dan pekerjaan. Olivia menilai perkembangan AI semestinya diposisikan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia, terutama di sektor kreatif.
“AI bukan tentang menggantikan orang, tetapi bagaimana kita menggunakan AI untuk meningkatkan kemampuan kita,” ujarnya.
Festival Director IdeaFest Surabaya Saskia Tessy mengatakan pihaknya menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk menghadirkan pembahasan AI yang lebih praktis dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami bekerja sama dengan ITS untuk menghadirkan topik AI yang lebih ramah dan aplikatif. Jadi bukan sesuatu yang terasa berat, tetapi bagaimana AI bisa digunakan dalam berbagai bidang industri,” jelasnya.
Saskia melihat perkembangan industri kreatif tidak lagi dapat dipisahkan berdasarkan sektor. Teknologi, kuliner, gaya hidup, dan kesehatan dapat saling beririsan untuk menciptakan model bisnis maupun pengalaman baru bagi masyarakat.
Kondisi tersebut terlihat pada industri makanan dan minuman (food and beverage/F&B) di Surabaya yang dinilai masih memiliki kekuatan sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat. Tantangannya, menurut Saskia, adalah menjaga agar bisnis mampu bertahan dalam jangka panjang.
“F&B di Surabaya kuat karena bagian dari lifestyle. Tetapi agar bisa sustain, pelaku usaha perlu berkolaborasi. Misalnya restoran bekerja sama dengan desainer, komunitas olahraga, teknologi, atau industri kreatif lainnya,” kata Saskia.
Bagi penyelenggara, kolaborasi menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan. Pertemuan antara pelaku dari sektor berbeda dinilai dapat menghasilkan peluang yang sebelumnya tidak terlihat apabila masing-masing industri berjalan sendiri.
“Kadang sebuah kolaborasi terjadi secara organik. Ada brand yang bertemu dengan agency, pelaku kopi bertemu industri hospitality, lalu lahir ide baru. Harapannya hal seperti itu juga terjadi di Surabaya,” katanya.
Saskia berharap pertemuan yang berlangsung dalam IdeaFest SUB 2026 tidak berhenti pada pertukaran informasi selama festival. Ia ingin interaksi antarpeserta berlanjut menjadi koneksi, gagasan, dan kegiatan yang memberikan dampak setelah acara berakhir.
“Harapannya orang datang bukan hanya pulang membawa informasi, tetapi membawa ide baru, koneksi baru, dan langkah nyata yang berdampak,” ujarnya.
Brand Trust IdeaFest Nathan Santoso menilai Surabaya memiliki posisi strategis untuk menjadi pintu gerbang perkembangan ekonomi kreatif menuju kawasan Indonesia Timur. Menurutnya, potensi tersebut perlu didukung oleh ekosistem yang mampu mempertemukan talenta, komunitas, keluarga, dan industri.
“Surabaya adalah surga yang tersembunyi. Banyak potensi luar biasa yang ada di sini. Langkah awal mungkin terlihat sederhana, tetapi ke depan bisa menjadi sesuatu yang besar,” kata Nathan.
Ia mengatakan tema The Next Leap juga berkaitan dengan keberanian individu untuk mengenali dan mengembangkan potensi yang telah dimiliki.
“Anak muda kreatif membutuhkan support system. Kekuatan ekonomi kreatif akan tumbuh ketika komunitas, keluarga, dan industri bergerak bersama,” ujarnya.
Penguatan talenta muda juga dilakukan melalui Kreatip by Artisan Market yang berlangsung pada 7-9 Agustus 2026. Program tersebut menyediakan ruang bagi produk lokal, kuliner kreatif, creative market, dan aktivitas komunitas.
Creatip by Artisan Market Fanni Susilo mengatakan program tersebut dirancang sebagai tempat bagi kreator muda untuk memperkenalkan karya sekaligus memperoleh pengalaman menjalankan usaha.
“Kami ingin menghadirkan ruang bagi anak muda untuk merasakan pengalaman entrepreneurship, melihat bagaimana kreativitas bisa menjadi sesuatu yang bernilai,” ujarnya.
Partner IdeaFest Cynthia Cecilia menilai ruang belajar dan interaksi seperti IdeaFest penting bagi generasi muda yang masih mencari arah pengembangan karier. Menurutnya, pertemuan dengan komunitas dan pelaku industri dapat membuka wawasan sekaligus memperluas jaringan.
“Banyak anak muda sekarang membutuhkan ruang untuk refleksi dan belajar. Mereka bisa mendapatkan insight, bertemu komunitas, dan membangun koneksi baru,” katanya.
Content creator Winona Araminta, yang menjadi salah satu pembicara IdeaFest SUB 2026, mengatakan perkembangan profesi kreator digital juga membutuhkan ruang pembelajaran berbasis pengalaman.
“Content creator adalah profesi yang banyak belajar dari praktik di lapangan. Akan banyak orang datang untuk berbagi pengalaman dan belajar bersama,” ujarnya.
Pembicara IdeaFest SUB 2026 Arief Susanto menilai festival tersebut dapat menjadi titik awal bagi perkembangan industri kreatif, generasi muda, dan komunitas. Ia juga melihat kebutuhan untuk memiliki kemampuan baru dalam menghadapi tantangan industri pada 2026.
“Saya yakin Ideafest akan menjadi barometer dan basic bagi anak muda dan semua peserta untuk lompatan ke depan. Karena tantangan di tahun 2026 butuh jurus-jurus tertentu yang bisa didapatkan di Ideafest ini,” ujar Arief yang juga pendiri dan CEO Dus Duk Duk.
IdeaFest SUB 2026 menghadirkan sejumlah pelaku industri dan kreator, di antaranya Fakhruddin Ar’razi, Theo Derick, Stephanie Regina, Matthew Samudro, Reda Gaudiamo, Dipa Andika, Andanu Prasetyo, dan Popomangun. Kehadiran berbagai komunitas kreatif juga diarahkan untuk memperluas pertemuan antara gagasan dan praktik.
Festival tersebut didukung sejumlah mitra, antara lain Bank Central Asia (BCA), PT LAPP Indonesia, Huawei, DSC, Founders Arena, dan FUKUMI. Penyelenggara berharap jejaring yang terbentuk selama kegiatan dapat berkembang menjadi kolaborasi yang memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Surabaya dan Jawa Timur.
“The Next Leap adalah ajakan untuk berani melangkah. Jangan takut mencoba, karena ide yang bertemu dengan kolaborasi bisa menjadi sesuatu yang berdampak,” ujar Saskia. []
Redaksi01
