IHSG Lonjak 1,23 Persen, Pasar Masih Rentan Berbalik Arah
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lonjakan signifikan pada awal perdagangan pekan, namun pelaku pasar diingatkan untuk tetap waspada terhadap potensi koreksi di tengah volatilitas yang masih tinggi pada Senin (27/04/2026).
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG naik 87,53 poin atau 1,23 persen ke level 7.217,02 pada pukul 09.19 WIB, setelah dibuka di posisi 7.158,51 atau lebih tinggi dibanding penutupan sebelumnya di angka 7.129,49, sebagaimana diberitakan Money, Senin, (27/04/2026). Sepanjang sesi pagi, pergerakan indeks berada pada kisaran 7.157,87 hingga 7.230,03.
Aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 6,853 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp3,270 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 419.500 kali. Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 433 saham menguat, 194 saham melemah, dan 332 saham stagnan. Kapitalisasi pasar berada di kisaran Rp12.900 triliun.
Penguatan juga terjadi pada sejumlah indeks lainnya. Indeks LQ45 naik 0,70 persen ke level 695,58, Jakarta Islamic Index (JII) menguat 1,30 persen ke 488,69, Indeks Kompas100 bertambah 1,00 persen ke posisi 976,59, serta Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) meningkat 1,12 persen ke 261,92. Selain itu, indeks IDX30 naik 0,37 persen menjadi 383,34 dan JII70 menguat 1,04 persen ke level 188,66.
Di balik penguatan tersebut, analis menilai pasar masih berada dalam tekanan eksternal global yang belum sepenuhnya mereda. Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyebut IHSG tengah menguji area penopang (support) di kisaran 7.100 hingga 7.125.
“Dengan kata lain, market masih berada dalam fase volatile downtrend dengan potensi swing jangka pendek,” ujar Hendra.
Ia menambahkan, apabila level tersebut tidak mampu bertahan, indeks berisiko melemah ke area psikologis 6.950 hingga 7.000. Namun, peluang technical rebound tetap terbuka seiring potensi membaiknya sentimen global dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Di tengah volatilitas tinggi seperti ini, sikap investor ritel disarankan lebih defensif dan selektif. Investor jangka pendek disarankan mengurangi agresivitas, fokus pada trading buy saat oversold dan disiplin cut loss,” paparnya.
Lebih lanjut, investor jangka menengah dan panjang masih dapat melakukan akumulasi secara bertahap pada saham berfundamental kuat, dengan tetap menjaga proporsi dana tunai (cash) guna mengantisipasi ketidakpastian pasar. Sejumlah sentimen yang perlu dicermati antara lain arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pergerakan harga komoditas, serta aliran dana asing yang masih berpotensi menekan laju indeks apabila aksi jual bersih (net sell) berlanjut. []
Penulis: Maya Wulandari | Penyunting: Redaksi01
