IHSG Melemah di Tengah Kekhawatiran Arus Dana Asing Keluar
JAKARTA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia mulai membayangi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Di tengah kondisi tersebut, pasar saham Amerika Serikat (AS) justru kembali mencetak rekor tertinggi baru, didorong penguatan saham teknologi dan optimisme terhadap perkembangan industri Artificial Intelligence (AI).
Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebut indeks S&P 500 pada perdagangan Senin (11/05/2026) naik 0,19 persen ke level 7.412,84, sedangkan Nasdaq menguat 0,10 persen menjadi 26.274,13. Kedua indeks tersebut mencatat rekor tertinggi sepanjang masa, sementara Dow Jones turut naik 0,19 persen ke posisi 49.704,47.
Penguatan pasar saham AS terutama ditopang sektor teknologi dan semikonduktor. Indeks Semikonduktor Philadelphia bahkan melonjak 2,6 persen setelah saham Qualcomm, Micron, dan Nvidia mengalami kenaikan signifikan seiring meningkatnya permintaan teknologi AI.
Di sisi lain, pasar global tetap mencermati perkembangan konflik AS-Iran setelah Presiden Donald Trump menolak proposal balasan Iran terkait penghentian perang. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia.
“Trump menyebut usulan itu ‘SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA’ karena Iran tidak setuju untuk menghentikan aktivitas nuklirnya,” sebagaimana dilansir Pasardana, Selasa (12/05/2026).
Ketidakpastian geopolitik turut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Minyak Brent naik sekitar 3 persen ke kisaran USD104 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat mendekati USD98 per barel.
Chief Executive Officer (CEO) Saudi Aramco Amin Nasser memperingatkan pasar minyak global berpotensi mengalami gangguan berkepanjangan apabila Selat Hormuz tetap terganggu hingga pertengahan Juni. Saat ini, jumlah kapal yang melintas di jalur tersebut turun drastis dibanding sebelum konflik meningkat.
Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga menanti sejumlah agenda ekonomi penting AS, termasuk rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) April 2026. Investor juga mencermati pergantian pimpinan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), menyusul berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pekan ini.
Di kawasan Asia, mayoritas bursa saham bergerak menguat. Korea Selatan menjadi pasar dengan kenaikan tertinggi setelah indeks KOSPI melonjak hampir 5 persen didorong reli saham teknologi. Sementara itu, pasar China menguat menjelang pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing pada 13-15 Mei 2026.
Adapun pasar domestik Indonesia justru mengalami tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 63,78 poin atau 0,92 persen menjadi 6.905,62. Pelemahan dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi perubahan bobot Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International Emerging Markets (MSCI EM) yang dapat memicu arus keluar dana asing.
Kiwoom Sekuritas menilai tekanan pasar domestik juga diperberat oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang bertahan di kisaran Rp17.400 per dolar AS serta meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah di tengah kenaikan harga minyak global.
“Kami melihat bahwa beberapa tekanan MSCI sebenarnya telah cukup tercermin dalam harga saham selama beberapa minggu terakhir, sehingga fokus utama pasar sekarang bukan lagi penjualan panik, tetapi apakah JCI dapat bertahan di atas area support 6.917–6.877 sebagai sinyal bahwa sebagian besar berita buruk telah tercermin dalam harga saham,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Selasa (12/5). []
Penulis: Ria | Penyunting: Redaksi01
