IHSG Naik ke Level 7.188, Investor Borong Saham di Awal Perdagangan

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026, ditopang dominasi saham yang bergerak di zona hijau serta peningkatan aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga awal sesi perdagangan, IHSG tercatat naik 96,03 poin atau 1,35 persen ke level 7.188,50 dari posisi penutupan sebelumnya di angka 7.092,47.

Data perdagangan menunjukkan penguatan indeks berlangsung di tengah tingginya volume transaksi pasar modal domestik. Sepanjang sesi pagi, pergerakan IHSG berada pada rentang 7.159,15 hingga 7.204,78 dengan total volume transaksi mencapai 6,780 miliar lembar saham dan nilai transaksi sementara sebesar Rp4,103 triliun.

Mayoritas saham tercatat menguat pada perdagangan kali ini. Sebanyak 402 saham berada di zona hijau, sementara 184 saham melemah dan 373 saham lainnya stagnan.

Penguatan juga terjadi pada sejumlah indeks utama lainnya di BEI. Indeks LQ45 naik 11,06 poin atau 1,62 persen ke posisi 693,82. Sementara Jakarta Islamic Index (JII) menguat 7,45 poin atau 1,58 persen menjadi 478,14.

Selain itu, indeks KOMPAS100 meningkat 15,65 poin ke level 974,72 dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) naik 1,17 persen menjadi 258,44. Indeks IDX30 turut bergerak positif dengan kenaikan 6,33 poin ke posisi 387,08, sedangkan indeks JII70 bertambah 2,37 poin ke level 185,21.

Di tengah tren positif tersebut, analis pasar menilai penguatan IHSG masih dibayangi potensi koreksi akibat volatilitas harga komoditas global. Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyebut pergerakan harga emas dan minyak mentah dunia menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar domestik, sebagaimana dilansir Money, Kamis (07/05/2026).

“Untuk Kamis (perdagangan) kami perkirakan penguatan IHSG relatif terbatas dan rawan koreksi dengan support di 7.047 dan resist 7.170, dimana kami perkirakan akan dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas seperti penguatan emas dan pelemahan minyak mentah,” ujar Herditya.

Menurutnya, kenaikan harga emas dunia berpotensi menopang saham berbasis logam mulia, sementara penurunan harga minyak mentah dapat memberi tekanan terhadap emiten sektor energi.

Meski demikian, tingginya frekuensi transaksi yang mencapai 526.400 kali menunjukkan minat investor terhadap pasar saham domestik masih cukup kuat. Kondisi tersebut dinilai dapat menjaga stabilitas pergerakan IHSG dalam jangka pendek di tengah dinamika ekonomi global. []

Penulis: Aditya Rachman | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *