Kurs Rupiah Bangkit ke Rp17.363, Sentimen Pasar Mulai Pulih

JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan sinyal penguatan pada awal perdagangan Kamis (07/05/2026), di tengah meredanya tekanan eksternal dan membaiknya sentimen pasar terhadap ekonomi domestik.

Berdasarkan data per pukul 09.30 WIB, rupiah berada di level Rp17.363 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat sekitar 0,14 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp17.387 per dolar AS. Pergerakan ini menandai adanya pemulihan terbatas setelah sebelumnya tertekan oleh dinamika global.

Penguatan rupiah tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Pelemahan indeks dolar AS menjadi salah satu pendorong utama, yang memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat. Selain itu, stabilitas ekonomi domestik serta langkah Bank Indonesia (BI) dalam menjaga nilai tukar turut menopang pergerakan mata uang nasional.

Perkembangan ini dinilai penting karena nilai tukar rupiah memiliki dampak luas terhadap berbagai sektor, mulai dari perdagangan internasional hingga daya beli masyarakat. Penguatan rupiah berpotensi menekan biaya impor dan menjaga stabilitas harga barang di dalam negeri.

Mengutip data pasar, indeks dolar AS atau U.S. Dollar Index (DXY) tercatat melemah sekitar 0,09 persen ke level 97,935 pada pukul 09.15 WIB, sebagaimana dilansir CNBC Indonesia, Kamis, (07/05/2026). Kondisi tersebut turut mendorong arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik.

Selain faktor global, optimisme terhadap kebijakan BI juga berperan dalam menjaga kepercayaan investor. Intervensi di pasar valuta asing serta penguatan cadangan devisa menjadi langkah strategis untuk meredam volatilitas nilai tukar.

Meski demikian, pelaku pasar masih mewaspadai potensi tekanan ke depan, terutama dari arah kebijakan suku bunga bank sentral AS yang berpotensi memengaruhi pergerakan dolar secara global. Dalam beberapa bulan terakhir, rupiah sempat mengalami tekanan signifikan akibat penguatan dolar dan ketidakpastian ekonomi dunia.

Data historis menunjukkan rupiah sempat melemah hingga mendekati level Rp17.352 per dolar AS pada akhir April 2026. Kondisi tersebut dipicu meningkatnya permintaan terhadap dolar sebagai aset aman di tengah ketidakpastian global.

Memasuki Mei 2026, tekanan tersebut mulai mereda meski pergerakan rupiah masih cenderung fluktuatif. Penguatan tipis pada perdagangan hari ini menjadi indikasi awal perbaikan sentimen pasar terhadap mata uang domestik.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan tetap dinamis dengan dipengaruhi sejumlah indikator, seperti inflasi, neraca perdagangan, serta arus investasi asing. Stabilitas kebijakan domestik dan perkembangan ekonomi global akan menjadi faktor penentu arah nilai tukar dalam jangka pendek. []

Penulis: Helni Sadiyah | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *