Indonesia Bidik Kemitraan Industri Strategis dengan Rusia, Bukan Lagi Sekadar Pasar
EKATERINBURG – Pemerintah Indonesia mendorong penguatan kemitraan industri dengan Rusia melalui perluasan investasi, alih teknologi, dan pengembangan manufaktur bernilai tambah. Langkah tersebut ditegaskan dalam Forum Bisnis Dialog Industri Rusia-Indonesia INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, Selasa (07/07/2026), sebagai upaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global.
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan Indonesia kini menempatkan diri sebagai mitra strategis pembangunan industri, bukan sekadar negara tujuan ekspor maupun pemasok bahan baku.
“Indonesia bukanlah negara yang hanya mengandalkan komoditas dan mencari pembeli. Indonesia adalah negara industri yang mencari mitra,” katanya.
Menurut Agus, sektor industri manufaktur terus menjadi penggerak utama perekonomian nasional. Pada triwulan I 2026, industri manufaktur mencatat pertumbuhan sebesar 5,04 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 4,55 persen.
Selain mencatat pertumbuhan positif, sektor manufaktur juga berkontribusi hampir seperlima terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menghasilkan lebih dari 83 persen nilai ekspor nasional, serta menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja.
Agus mengungkapkan hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia terus mengalami penguatan. Sepanjang 2025, nilai perdagangan bilateral mencapai 4,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau meningkat 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor Indonesia ke Rusia tumbuh 7,5 persen hingga mencapai 1,8 miliar dolar AS.
Ia menjelaskan struktur perdagangan kedua negara saling melengkapi. Indonesia mengekspor komoditas seperti karet, kopi, alas kaki, produk elektronik, dan bahan kimia, sedangkan Rusia memasok pupuk, baja, serealia, hingga produk dirgantara. Kondisi tersebut dinilai menjadi fondasi untuk memperluas kolaborasi pada sektor industri bernilai tambah, penguasaan teknologi, dan investasi.
“Mari membangun bersama, bukan sekadar saling menjual produk,” kata Agus.
Dalam forum tersebut, Menperin juga mengajak perusahaan manufaktur Indonesia memperluas investasi di Rusia, khususnya pada sektor makanan halal, kosmetik, dan farmasi dengan memanfaatkan Rusia serta kawasan Eurasia sebagai pintu masuk menuju pasar Asia Tengah. Sebaliknya, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis sebagai gerbang menuju pasar Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) yang memiliki lebih dari 700 juta konsumen.
Untuk mendukung peningkatan kerja sama tersebut, pemerintah menyiapkan berbagai instrumen pembiayaan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan Local Currency Settlement (LCS) serta mekanisme pembayaran BRICS guna memperlancar transaksi perdagangan dan investasi antarkedua negara.
“Ini ketiga kali akan saya sampaikan, Indonesia hadir bukan hanya sebagai pasar untuk menjual produk, Indonesia hadir sebagai mitra untuk Rusia dan Indonesia membangun secara bersama-sama, mulai dari pengolahan sumber daya, proses manufaktur hingga seluruh ekosistem yang terbentuk dengan baik,” katanya, sebagaimana diberitakan Antara, Selasa (07/07/2026).
Melalui penguatan kemitraan industri, investasi dua arah, dan dukungan sistem pembiayaan yang semakin luas, Indonesia berharap hubungan ekonomi dengan Rusia mampu memberikan nilai tambah bagi kedua negara sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global. []
Redaksi01
