Industri Kayu Indonesia Diminta Naik Kelas, Teknologi Jadi Kunci
SURABAYA – Industri furnitur dan pengolahan kayu Indonesia didorong tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi mulai mengoptimalkan teknologi dan nilai tambah agar mampu memperkuat daya saing di pasar global. Dorongan tersebut mengemuka dalam Roadshow Indonesia Furniture Manufacturing Component (IFMAC) dan Woodworking Machinery (WOODMAC) 2026 yang digelar di Surabaya, Kamis (13/08/2026).
Forum yang menjadi rangkaian menuju pameran IFMAC & WOODMAC 2026 pada September mendatang itu mempertemukan pelaku industri, asosiasi, akademisi, serta penyedia teknologi. Kegiatan mengangkat tema “Kolaborasi, Inovasi, dan Peluang Bisnis untuk Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu”.
Ketua Presidium Indonesian Sawmill and Woodworking Association (ISWA), Jimmy Chandra, menilai tantangan industri kayu nasional bukan terletak pada keterbatasan bahan baku, melainkan bagaimana menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi dari kayu yang tersedia.
“Sebenarnya Indonesia tidak kekurangan kayu, indonesia kaya akan kayu. Namun yang kita butuhkan lebih dari itu. Yakni nilai dari sebatang kayu yang kita miliki. Dari ribuan kayu yang ada,” kata Jimmy di Surabaya, Kamis (13/08/2026), sebagaimana diberitakan Kabarbisnis, Kamis (13/08/2026).
Menurut Jimmy, modernisasi teknologi menjadi bagian penting untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengoptimalkan pengolahan kayu. Teknologi dinilai dapat membantu industri menghasilkan produk bernilai tambah yang lebih kompetitif ketika memasuki pasar internasional.
Selain persoalan teknologi, penguatan promosi produk ke pasar luar negeri juga dinilai membutuhkan dukungan pemerintah. Jimmy berharap pemerintah tidak hanya berperan sebagai penghubung dalam pengembangan teknologi, tetapi turut membantu pelaku usaha memperkenalkan produknya di pasar ekspor.
“Pemerintah itu selalu membantu kita. Seperti teknologi, pemerintah jadi jembatan untuk menyebarkan teknologi industri. Kemudian pemerintah juga harus membantu kalau kita punya produk untuk dipromosikan di luar,” ujar Jimmy.
Ia bahkan menyoroti perlunya skema dukungan ekspor yang dapat meningkatkan posisi produk kayu Indonesia ketika berhadapan dengan produsen dari negara lain.
“Seperti China, kalau mereka punya produk dan dipromosikan ke sini itu mereka dibayar oleh pemerintah mereka. Indonesia harus melakukan seperti ini. Kalau kita tidak dibayar, bagaimana kayu kita punya daya saing di luar,” tutup Jimmy.
Pandangan serupa disampaikan Sekretaris Komisariat Daerah (Komda) Jawa Asosiasi Panel Kayu Indonesia (APKINDO), Tina Azizi. Ia menilai kemampuan teknologi dan akses terhadap peluang bisnis menjadi dua faktor yang semakin menentukan keberhasilan industri dalam menghadapi persaingan.
“Daya saing tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tapi tentang teknologi dan peluang bisnis yang luas,” jelas Tina Azizi.
APKINDO juga menyatakan dukungan terhadap forum kolaborasi yang mempertemukan industri dengan penyedia teknologi serta calon mitra bisnis. Tina mengatakan asosiasinya telah terlibat dalam IFMAC & WOODMAC sejak 2019 dan berharap kegiatan serupa dapat memperluas ekosistem usaha.
“Apkindo sendiri telah berkolaborasi dengan IFMAC & WOODMAC sejak tahun 2019. Kami berharap dengan adanya acara ini, semakin banyak pameran serupa dan membentuk ekosistem dengan peluang usaha yang lebih luas,” tutup Tina Azizi.
Roadshow di Surabaya juga memperlihatkan sejumlah teknologi yang dapat diterapkan dalam rantai produksi furnitur dan pengolahan kayu. Imos Indonesia melalui Aaron Aristo memaparkan materi “From Design to Production: Building a Digital Furniture Workflow“.
Sementara itu, Felder Group Indonesia membawa materi “Smart Machinery, Smarter Business“, sedangkan Coral SPA memperkenalkan teknologi melalui materi “Extracting Profitability from Pollution Control Systems“. ArchLabs dan Toekang Hub turut memperkenalkan sejumlah agenda, termasuk program AI Expo, Festival Design 2026, ArchLabs, dan Festival Toekang 2026.
Project Director IFMAC & WOODMAC, Cloudinia J. Dieter, mengatakan perkembangan teknologi menjadi pembeda utama penyelenggaraan pameran tahun ini. Menurutnya, teknologi yang dibawa para eksibitor diharapkan mampu menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.
“Pembeda dari tahun ini dan yang sebelumnya adalah teknologinya. Kita berharap teknologi yang dibawa eksibitor di acara nanti bisa memenuhi kebutuhan terkini,” jelas Cloudinia J. Dieter.
Setelah roadshow di Surabaya, rangkaian utama IFMAC & WOODMAC 2026 dijadwalkan berlangsung pada 23-26 September 2026 di Hall B3 & C3, Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta. Pameran tersebut akan menghadirkan berbagai kebutuhan industri kayu, mulai dari mesin produksi, material, komponen dan aksesori, cutting tools, hingga teknologi finishing.
Ajang tersebut juga akan memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk menyaksikan demonstrasi mesin, mengikuti sesi teknis dan seminar, serta membangun jejaring bisnis dengan pelaku industri dari dalam dan luar negeri. Kehadiran berbagai teknologi dan pelaku industri diharapkan mempercepat transformasi sektor furnitur dan pengolahan kayu Indonesia dari sekadar mengandalkan bahan baku menjadi industri dengan nilai tambah yang lebih kuat. []
Redaksi01
