Investor Muda Kuasai Pasar Modal, tetapi Literasi Masih Jadi Tantangan

0
Screenshot 2026-10-14 174013

JAKARTA – Dominasi investor berusia muda di pasar modal Indonesia belum sepenuhnya diikuti pemahaman yang memadai mengenai produk dan risiko investasi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat investor berusia 30 tahun ke bawah mencapai 55,25 persen dari total investor, sementara tingkat literasi masyarakat khusus pasar modal masih 17,78 persen berdasarkan data yang dipaparkan pada Rabu (14/10/2026).

Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek (DPLE) OJK Edi Broto Suwarno mengatakan, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 31,14 juta berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Agustus 2026. Jika investor berusia 31–40 tahun turut diperhitungkan, kelompok usia tersebut mencakup lebih dari 80,64 persen dari keseluruhan investor.

“Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia saat ini semakin dekat dengan generasi muda kita,” ujar Edi dalam acara Ring the Bell for Financial Literacy 2026 di Main Hall PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (14/10/2026), sebagaimana diberitakan Antara, Rabu, (14/10/2026).

Besarnya partisipasi generasi muda menjadi peluang bagi pengembangan pasar modal, tetapi sekaligus menuntut penguatan edukasi agar keputusan investasi tidak hanya didorong kemudahan akses digital dan tren di kalangan masyarakat.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan, kelompok usia 26–35 tahun memiliki indeks literasi keuangan sebesar 78,70 persen dan indeks inklusi keuangan 96,27 persen. Namun, secara khusus pada sektor pasar modal, indeks literasi tercatat 17,78 persen dan indeks inklusi hanya 1,34 persen.

Perbedaan angka tersebut memperlihatkan bahwa pemahaman keuangan secara umum belum tentu sejalan dengan penguasaan pengetahuan mengenai investasi di pasar modal. Karena itu, peningkatan jumlah investor perlu disertai pemahaman tentang karakteristik produk, potensi keuntungan, dan risiko yang dapat muncul.

Edi mengatakan, OJK terus menjalankan sosialisasi terpadu di sejumlah daerah untuk memperluas pemahaman masyarakat, terutama di wilayah yang jauh dari pusat kegiatan pasar modal. Edukasi tersebut juga diperlukan agar investor memahami perkembangan produk investasi baru sebelum mengambil keputusan.

“Kami ada sosialisasi terpadu, memang untuk beberapa tempat yang jauh dari pusat kegiatan di bidang pasar modal, khususnya mungkin pemahamannya masih belum komprehensif, walaupun sudah melakukan investasi, terutama terkait produk baru itu masih perlu ditingkatkan,” ujar Edi.

Upaya peningkatan literasi juga dinilai penting seiring berkembangnya penggunaan platform digital yang memudahkan masyarakat, khususnya generasi muda, mengakses layanan investasi. Kemudahan transaksi perlu diimbangi kemampuan menilai informasi dan mempertimbangkan risiko secara rasional.

Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum Bursa Efek Indonesia (BEI) Umi Kulsum menekankan bahwa pertumbuhan investor tidak cukup hanya diukur dari bertambahnya jumlah pemilik rekening investasi. Ketahanan investor dalam menghadapi dinamika pasar dan kemampuan memahami risiko juga perlu menjadi perhatian.

“Pertumbuhan jumlah investor harus berjalan seiring dengan peningkatan pemahaman dan ketahanan investor,” ujar Umi.

Penguatan literasi diharapkan membantu investor muda membedakan informasi yang dapat dipercaya dari informasi yang menyesatkan, memahami manfaat dan risiko instrumen investasi, serta menghindari keputusan yang hanya mengikuti tren. Dengan demikian, pertumbuhan investor pasar modal dapat berlangsung secara lebih sehat dan berkelanjutan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *