Jalur Pipa Saudi Kembali Beroperasi, Harga Minyak Melemah
PERTH – Pemulihan aliran minyak Arab Saudi melalui jalur pipa ke Laut Merah menjadi salah satu faktor yang menekan harga minyak dunia pada perdagangan Rabu (23/09/2026). Kondisi tersebut diperkuat harapan pasar terhadap penyelesaian diplomatik konflik Amerika Serikat (AS)-Iran yang berpotensi memperbaiki prospek pasokan minyak global.
Pada pukul 08.30 WIB, harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 turun 7 sen atau 0,07 persen menjadi US$99,18 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 turun 35 sen atau 0,39 persen ke US$90,17 per barel.
WTI bahkan sempat turun sekitar 1 persen hingga menyentuh US$89,6 per barel. Penurunan tersebut melanjutkan tekanan terhadap harga minyak setelah Brent pada perdagangan Selasa (22/09/2026) ditutup di bawah US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 8 September.
Pergerakan harga minyak mendapat perhatian pasar setelah Arab Saudi mulai mengoperasikan kembali Jalur Pipa East-West menuju Laut Merah pada Selasa. Tiga sumber yang mengetahui kondisi tersebut mengatakan pemulihan operasi itu diikuti tanda-tanda peningkatan aliran minyak di kawasan Timur Tengah.
Jalur pipa tersebut sebelumnya ditutup setelah serangan pesawat nirawak pada 11 September. Arab Saudi menyebut serangan itu dilakukan milisi Irak dan penutupan jalur pipa menyebabkan penghentian pemuatan minyak mentah di Pelabuhan Yanbu.
Sejak konflik AS dan Israel dengan Iran mengganggu aliran minyak dari Arab Saudi serta negara-negara Teluk lainnya melalui Selat Hormuz, Riyadh menggunakan jalur pipa tersebut untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari atau sekitar 4 persen dari pasokan global menuju Yanbu.
Selain Arab Saudi, peningkatan ekspor minyak Irak turut memberikan tambahan pasokan ke pasar. Menteri Perminyakan Irak Basim Mohammed mengatakan negaranya mengekspor lebih dari 3 juta barel per hari dan berharap dapat meningkatkan ekspor melalui Turki hingga lebih dari 600.000 barel per hari.
Data sementara perusahaan pelacakan kapal Vortexa dan Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah Irak pada Agustus masing-masing mencapai 2,3 juta barel per hari dan 2,17 juta barel per hari. Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli, tetapi masih berada di bawah tingkat sebelum perang pada Februari yang masing-masing tercatat 3,7 juta barel per hari dan 3,362 juta barel per hari.
Sentimen pasokan juga diperkuat perkembangan diplomatik antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump pada Selasa mengatakan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah melakukan pembicaraan produktif dengan mediator Iran untuk mengakhiri perang.
Trump juga mengatakan, “Saya pikir ada banyak momentum bagi mereka untuk membuat kesepakatan,” sebagaimana dikutip Reuters dan diberitakan Kontan, Rabu, (23/09/2026).
Analis KCM Trade Tim Waterer menilai pasar kini melihat prospek pasokan minyak global secara lebih konstruktif dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.
“Pasar saat ini merasa lebih konstruktif mengenai gambaran pasokan minyak global dibandingkan beberapa minggu lalu,” kata Waterer.
“Meskipun retorika keras terus berlanjut, termasuk ancaman pemusnahan, pasar memilih untuk mempertimbangkan kemungkinan perundingan,” tambah Waterer.
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Data industri menunjukkan stok minyak mentah AS bertambah 1,8 juta barel dalam sepekan hingga 18 September, berlawanan dengan perkiraan analis yang disurvei Reuters yang memperkirakan penurunan.
Data persediaan minyak mingguan resmi dari Administrasi Informasi Energi (EIA) AS dijadwalkan dirilis pada pukul 10.30 waktu setempat atau 14.30 GMT. Data tersebut menjadi salah satu indikator yang kembali dicermati pasar untuk melihat arah keseimbangan pasokan dan permintaan minyak. []
Redaksi01
