Seminar internasional di Jakarta menilai konflik Iran, AS, dan Israel mempercepat pergeseran dunia menuju sistem multipolar.
JAKARTA – Seminar internasional yang digelar Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPN Veteran) bersama Global Thinkers Institute (GTI) di Jakarta mengungkap tesis bahwa konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel justru mempercepat lahirnya tatanan dunia baru yang multipolar, meski diwarnai dampak destruktif.
Kegiatan yang menghadirkan para duta besar dan pakar internasional ini membahas dinamika geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah yang dinilai mendorong pergeseran kekuatan dunia dari sistem unipolar menuju multipolar.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergey Tolchenov, menyampaikan bahwa Rusia secara tegas mendukung jalur diplomasi dalam konflik tersebut. Ia mengungkapkan negaranya telah memveto upaya militer yang dilakukan AS dan Israel terkait pembukaan Selat Hormuz, serta menegaskan dukungan Moskow terhadap kemerdekaan Palestina.
Pandangan berbeda disampaikan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, yang mengkritik narasi media internasional terkait konflik tersebut. Ia meminta masyarakat Indonesia untuk tidak mudah menerima informasi yang bersifat sepihak.
“Ia menjelaskan bahwa Iran-lah yang menjadi korban agresi, bukan pelaku. Ia menyebut bahwa Teheran menggunakan haknya berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB untuk membela diri, sementara AS dan Israel melanggar hukum internasional dengan mengabaikan Pasal 2(4) Piagam PBB dan Resolusi 3314 Majelis Umum PBB.”
Direktur GTI, Muhammad Ma’ruf, menilai konflik yang terjadi merupakan perang eksistensial bagi Iran, sekaligus menjadi indikator runtuhnya dominasi global AS dan sekutunya. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai awal terbentuknya sistem multipolar yang lebih seimbang.
Para pakar juga menyoroti aspek ekonomi global, khususnya penguatan kelompok negara BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa). Mereka menilai proyek Koridor Transportasi Utara-Selatan (International North–South Transport Corridor/INSTC) dan tren de-dollarisasi menjadi bukti nyata pergeseran kekuatan ekonomi dunia.
Profesor Tim Anderson dari Australia menilai dominasi AS dan Israel di mata dunia mengalami penurunan signifikan. Ia menyebut meningkatnya solidaritas global terhadap Iran sebagai faktor yang dapat mempercepat kemerdekaan Palestina.
Sementara itu, pakar Mukhtahid Hashem menilai konflik saat ini merupakan perebutan kendali atas wilayah strategis yang menghubungkan tiga benua. Ia menyebut pengaruh North Atlantic Treaty Organization (NATO) di kawasan Timur Tengah semakin melemah dan mulai tergantikan oleh pola perlawanan berbasis ideologi kemerdekaan kolektif.
Sorotan kritis juga disampaikan pakar Indonesia, Asep Kamaluddin dan Rizki Hikmawan, yang menilai kebijakan Pemerintah Indonesia menyimpang dari prinsip “bebas aktif”. Mereka mengkritik keterlibatan Indonesia dalam perjanjian Patroli Organisasi Timur Tengah (BOP) yang dinilai berpotensi menempatkan Indonesia pada kubu tertentu dalam konflik global.
Secara keseluruhan, seminar tersebut menyimpulkan bahwa konflik Iran, AS, dan Israel, meskipun menimbulkan dampak kemanusiaan, secara paradoks mempercepat lahirnya tatanan dunia multipolar yang berbasis kesetaraan antarnegara, termasuk membuka peluang lebih besar bagi kemerdekaan Palestina. []
Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Aulia Setyaningrum
