Konsentrat Papua Kembali Masuk, Smelter Freeport Target Produksi September

GRESIK – Pemulihan pasokan konsentrat tembaga dari tambang Papua mulai membuka jalan bagi pengoperasian kembali Smelter Freeport Indonesia di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, Jawa Timur. PT Freeport Indonesia menargetkan fasilitas pengolahan tersebut kembali berproduksi pada September 2026 setelah pasokan konsentrat dinilai mencukupi.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan konsentrat tembaga dari Papua saat ini sudah kembali dikirim ke Smelter Manyar. Namun, pengoperasian fasilitas belum langsung dilakukan karena perusahaan masih menunggu volume bahan baku mencapai jumlah yang memadai.

“Sementara ini, konsentrat sudah mulai masuk dari Papua, sudah mulai masuk ke (smelter) Manyar,” ujar Tony ketika ditemui setelah acara Peluncuran dan Bedah Buku “10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia” yang digelar di Jakarta, Jumat (07/08/2026), sebagaimana diberitakan Antara, Jumat (07/08/2026).

Menurut Tony, Freeport perlu memastikan ketersediaan konsentrat sebelum proses pengolahan dimulai kembali. Perusahaan menargetkan Smelter Freeport dapat kembali berproduksi pada September mendatang setelah volume pasokan memenuhi kebutuhan operasional.

“Jadi mungkin kan biar volumenya cukup dulu baru kami bakar di furnace,” kata Tony.

Masuknya kembali konsentrat menjadi perkembangan penting setelah pasokan ke Smelter Manyar terganggu akibat insiden longsor di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada 8 September 2025. Kondisi tersebut menyebabkan fasilitas pengolahan tidak memperoleh pasokan konsentrat dalam jumlah yang cukup untuk menjalankan kegiatan produksi secara normal.

Freeport sebelumnya memperkirakan Smelter Manyar akan mengolah sekitar 15 persen konsentrat tembaga yang berasal dari tambang GBC secara bertahap sepanjang 2026. Pemulihan produksi tambang menjadi faktor penting bagi keberlanjutan pasokan bahan baku menuju fasilitas pengolahan di Manyar.

Tony menjelaskan kapasitas produksi tambang GBC pada semester I 2026 masih berada di sekitar 50 persen dari kondisi normal setelah insiden longsor. Perusahaan memperkirakan kapasitas tersebut meningkat menjadi sekitar 65 persen pada semester II 2026.

Tahapan pemulihan kemudian diproyeksikan berlanjut pada 2027. Kapasitas produksi GBC ditargetkan mencapai 75 persen pada semester I 2027 sebelum secara bertahap menuju kapasitas penuh pada semester II 2027.

“Dan (kapasitas produksi) 100 persennya akan dimulai di satu hari setelah akhir tahun,” ujar Tony.

Dengan mulai masuknya kembali konsentrat dari Papua, proses pemulihan operasional Smelter Manyar memasuki tahap baru. Ketersediaan pasokan dalam volume yang memadai akan menjadi penentu utama sebelum fasilitas tersebut kembali menjalankan proses pengolahan secara penuh, sementara peningkatan kapasitas produksi GBC diharapkan memperkuat kesinambungan pasokan pada periode berikutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *