Krisis Minyak Percepat Transisi ke Kendaraan Listrik

BEIJING – Lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran diproyeksikan mempercepat peralihan konsumen global ke kendaraan listrik, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dan biaya bahan bakar.

Perubahan dinamika tersebut mendorong permintaan kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) tumbuh lebih cepat dari proyeksi awal. Presiden Jetour International, Ke Chuandeng, menyebut kondisi global saat ini justru menjadi katalis yang mempercepat adopsi kendaraan listrik di berbagai kawasan.

“Hari ini, pasar kendaraan energi baru global telah memasuki tahap pertumbuhan pesat, yang juga membawa tantangan baru bagi kami. Pada 2025, penetrasi energi baru di China telah mencapai 50 persen dan masih terus tumbuh,” ujarnya di Beijing, sebagaimana dilansir Kompas, Selasa (28/04/2026).

Menurut Ke, dalam tiga tahun ke depan, struktur pasar otomotif di China akan mengalami perubahan signifikan dengan dominasi kendaraan elektrifikasi. Ia memproyeksikan sekitar 60 persen pasar akan diisi kendaraan listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV), 20 persen Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), dan hanya 20 persen tersisa untuk kendaraan berbasis mesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE).

Fenomena serupa juga terlihat di kawasan lain. Di Eropa, penetrasi BEV mendekati 30 persen, sementara kawasan Asia Pasifik telah melampaui 20 persen untuk kendaraan energi baru. Kondisi ini menunjukkan tren global menuju elektrifikasi transportasi yang semakin kuat.

Namun demikian, faktor geopolitik dinilai menjadi pendorong tambahan yang signifikan. Kenaikan harga minyak akibat konflik internasional membuat sejumlah negara menghadapi tekanan pasokan energi, terutama yang bergantung pada impor bahan bakar fosil.

“Terutama baru-baru ini karena adanya masalah antara Amerika Serikat dan Iran. Hal ini menyebabkan harga minyak naik terlalu tinggi, dan beberapa pasar seperti Australia mungkin tidak memiliki cukup pasokan minyak,” ucap Ke.

Ia menambahkan bahwa gangguan pasokan energi bahkan telah berdampak langsung pada aktivitas bisnis, termasuk perubahan rencana perjalanan akibat keterbatasan bahan bakar di sejumlah wilayah.

“Ini berarti situasi telah berubah total, yang akan mendorong dan mempercepat akselerasi kendaraan energi baru di dunia, misalnya di Australia dan beberapa pasar Asia,” kata dia.

Kondisi tersebut mendorong konsumen untuk beralih ke solusi mobilitas yang lebih stabil dan efisien, yakni kendaraan listrik. Selain itu, produsen otomotif asal China dinilai semakin agresif menghadirkan produk EV dengan teknologi kompetitif dan harga yang lebih terjangkau.

“Orang-orang semakin banyak mencari mobil listrik murni, terutama untuk merek Tiongkok, segalanya telah berubah,” ujar Ke.

Dengan kombinasi tekanan harga energi global dan percepatan inovasi teknologi, kendaraan listrik kini tidak lagi sekadar alternatif, melainkan mulai menjadi kebutuhan utama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. []

Penulis: Dio Dananjaya | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *