Negosiasi AS-Iran Buntu, Pasokan Minyak Global Tertekan

JAKARTA – Harga minyak mentah global bertahan di level tinggi akibat terganggunya distribusi energi dunia, menyusul blokade jalur strategis Selat Hormuz di tengah negosiasi yang belum mencapai kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kondisi tersebut mendorong kekhawatiran pasar terhadap potensi krisis pasokan energi dan tekanan inflasi global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas dunia. Hingga saat ini, arus lalu lintas energi di kawasan tersebut dilaporkan nyaris terhenti.

Berdasarkan data pasar, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$96 per barel setelah naik 2,1 persen pada Senin (27/04/2026), sementara minyak jenis Brent bertahan di atas US$108 per barel.

Di sisi diplomasi, Presiden AS Donald Trump disebut telah menggelar pertemuan untuk membahas proposal dari Iran terkait upaya penyelesaian konflik. Namun, AS tetap menetapkan syarat tegas dalam setiap kemungkinan kesepakatan, termasuk jaminan bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir.

Meski gencatan senjata dilaporkan masih berlangsung sejak awal April, blokade di Selat Hormuz oleh kedua pihak telah memangkas distribusi harian minyak mentah, gas alam, serta produk turunannya hingga mendekati nol. Situasi ini secara langsung menekan pasokan global dan mendorong harga energi tetap tinggi.

“Masih ada ekspektasi umum bahwa aliran minyak akan mulai normal pada Mei dan Juni, yang membantu menjaga harga tetap terkendali,” ujar Rebecca Babin, pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Group, sebagaimana dilansir Bloomberg, Selasa (28/04/2026). “Namun waktu terus berjalan. Setiap hari memperketat keseimbangan fisik, menggerus cadangan penyangga, dan meningkatkan risiko lonjakan harga yang lebih ekstrem.”

Di tengah situasi tersebut, Iran melalui jalur diplomasi dilaporkan mengusulkan sejumlah syarat untuk mengakhiri konflik, antara lain pencabutan blokade laut oleh AS, pembentukan kerangka hukum baru untuk lalu lintas di Selat Hormuz, serta jaminan tidak adanya aksi militer di masa depan.

Namun, laporan media internasional menyebutkan bahwa pemerintah AS masih bersikap hati-hati terhadap proposal tersebut. Negosiasi tetap berlangsung, meskipun terdapat perbedaan pandangan mendasar, khususnya terkait program nuklir Iran.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menegaskan bahwa keinginan Iran untuk tetap menguasai Selat Hormuz menjadi salah satu poin yang sulit diterima oleh pihaknya. Sebelum konflik, sekitar seperlima distribusi minyak dan Liquefied Natural Gas (LNG) dunia melewati jalur tersebut.

Selain itu, dampak konflik juga terlihat dari pergerakan armada energi. Dua kapal tanker terkait Iran yang sebelumnya dicegat di dekat Sri Lanka dilaporkan menghentikan pelayaran dan berbalik arah, mencerminkan meningkatnya ketegangan di jalur distribusi energi global.

Dengan kondisi tersebut, pasar energi dunia kini berada dalam tekanan tinggi. Pelaku pasar menanti kejelasan hasil negosiasi yang diharapkan dapat membuka kembali jalur distribusi dan meredakan volatilitas harga dalam waktu dekat. []

Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *