Maut di Hari Lebaran

Korban tenggelamnya kapal feri yang didapati sudah tak bernyawa.
Korban tenggelamnya kapal feri yang didapati sudah tak bernyawa.

PONTIANAK – Maut menjemput memang tak mengenal waktu. Di kala senang pun, maut bisa datang dengan mudah. Hal tersebut dirasakan benar bagi warga Kalimantan Tengah (Kalteng). Menjelang lebaran (23/7) sebuah speedboat tenggelam di perairan Katingan Kuala, 4 orang tewas. Lalu di hari kedua lebaran Idul Fitri (29/7), sebuah kapal feri ditelan ganasnya Sungai Kapuas, 19 orang dipastikan tewas.

Kecelakaan di perairan Kalteng ini benar-benar tragis, karena terjadi di kala libur lebaran umat Islam, Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriyah. Menurut informasi yang berhasil dihimpun media ini, tenggelamnya speedboat terjadi masih di bulan Ramadhan, namun libur sudah mulai berlaku. Speedboat dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) dengan tujuan Pegatan, Kalteng dihantam ombak besar di Muara Laut Batu Mandi, Kecamatan Katingan Kuala,Kabupaten Katingan, Kalteng.

Kejadian yang diperkirakan sekitar pukul 11.00 WIB ini, mengakibatkan speedboat pecah dan 33 penumpangnya terlempar ke laut. Sebanyak 29 penumpang berhasil diselamatkan. Empat penumpang dinyatakan hilang dan tewas.

Peristiwa  tenggelamnya speedboat bernama Yuliana yang dimotoris oleh Filiansyah ini bermula dari keberangkatannya dari Banjarmasin sekitar pukul 08.00 WIB. Tujuan speedboat yang mengangkut para pemudik ini adalah  Pegatan di Kecamatan Katingan Kuala.

Speedboat nahas mengangkut 33 penumpang. Rinciannya 24 penumpang dewasa dan sembilan  lainnya penumpang anak-anak. Di tengah perjalanannya secara tiba-tiba speedboat dengan kekuatan 400 PK tersebut dihantam gelombang besar hingga terbalik dan tenggelam.

Para penumpang panik bukan kepalang. Masing-masing berupaya menyelamatkan diri dengan berupaya berenang mencari tempat aman hingga ke pinggir pantai. Namun empat orang penumpang lainnya langsung menghilang. Kemudian dilakukan pencarian oleh sejumlah warga dibantu aparat kepolisian setempat. Mereka yang tenggelam dan tewas adalah Indrawati (28) dan Ulfah (12), Fahri (4) dan Wahyu (3).

Kapolres Katingan AKBP Deni Setyo Utomo SH SIK melalui Kapolsek Katingan Kuala Iptu Sri Mulyono mengungkapkan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan motoris speedboat nahas tersebut.

“Sekarang masih kita periksa dan kita mintai keterangan. Kita minta kepada seluruh masyarakat untuk lebih hati-hati melintasi laut, apalagi saat ini gelombang sedang tinggi. Kepada motoris, kita minta supaya betul-betul mengutamakan keselamatan para penumpang,” tegas Sri Mulyono.

Terkait bangkai speedboat Yuliana, petugas sudah berupaya mengevakuasinya. Namun dari berbagai upaya, badan speed itu tidak bisa ditarik ke permukaan. Diduga ada bagian badan speedboat yang tersangkut batu di bawah dasar laut. Sementara dari empat orang korban yang tenggelam, dua di antaranya masih hilang dan belum berhasil ditemukan.

Tim Search and Rescue sedang mencari korban speedboat tenggelam.
Tim Search and Rescue sedang mencari korban speedboat tenggelam.

Tragedi pecahnya speedboat yang mengangkut rombongan pemudik dari Banjarmasin tak terlepas dari ulah motoris. Saat mengemudikan speedboat di tengah deburan ombak besar, sang motoris Filiansyah justru terkesan ugal-ugalan. Sebelum speedboat ini terhempas pecah oleh hantaman ombak besar, beberapa penumpang sudah mengingatkan agar motoris tidak melaju dengan kecepatan tinggi.

Menurut Kapolsek Katingan Kuala Iptu Sri Muyono, pihaknya  sudah melakukan pemeriksaan sejumlah saksi, termasuk sang motoris Filiansyah. Dari hasil pemeriksaan ini, status motoris mengarah ke tersangka. “Motorisnya kini sudah kita amankan dan dibawa ke Polres Katingan untuk diperiksa,” ujar Sri Mulyono.

Kemudian rencana pasal yang akan dibidik untuk motoris ini ujarnya, dikenakan Pasal 359 KUHP tentang kelalaian dan menyebabkan hilangnya nyawa orang lain, dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. “Motorisnya tidak hati-hati didalam membawa penumpang, ditengah kondisi gelombang yang sangat tinggi saat ini,” sebut mantan Kasi Propam Polres Katingan ini.

Di tempat terpisah, Irwan Novianto (29) warga Pagatan Hilir yang selamat dalam peristiwa ini menyebut, pecahnya speedboat yang mereka tumpangi murni karena terkena hempasan gelombang. Namun, ujar dia, sebelumnya para penumpang sempat mengingatkan motoris untuk lebih hati-hati, dengan kondisi gelombang tinggi.

“Penumpang lain sempat meminta supaya tidak menggunakan kecepatan tinggi. Namun peringatan itu terkesan tidak dipedulikan oleh motoris dan tetap melaju dengan kecepatan tinggi,” ungkapnya.

Bahkan dia menuding, motoris itu terkesan ugal-ugalan membawa speedboat tersebut. Tidak berapa lama setelah diperingatkan lanjutnya, speed itu langsung pecah dan air langsung masuk ke dalam dan terbalik.

Para penumpang pun langsung panik untuk menyelamatkan diri dari maut. “Bahkan kaki saya juga sempat terikat dan membuat saya panik. Setelah saya periksa ternyata itu ikatan pelampung dan langsung saya gunakan untuk menyelamatkan diri dan keluarga saya pada saat itu,” terangnya.

Irwan mengungkapkan,  berada di speedboat nahas itu bersama istrinya Neli Susanti (25), anaknya Zaijan Mustafa (5), juga iparnya Adau (30) bersama anaknya Ara (3). Dia bersyukur karena adanya pelampung itulah akhirnya bisa menyelamatkan keluarganya. “Waktu itu kondisinya sangat panik. Bahkan waktu itu istri saya sempat mau tenggelam dua kali, tapi berhasil saya tarik,” kata pria yang bekerja di salah satu perusahaan di daerah Batu Licin, Kalsel.

Setelah kurang lebih satu jam mengapung di tengah laut, beruntung sebuah speedboat juga dari arah Banjarmasin kebetulan melintas.  “Saat itulah kami melambaikan tangan untuk meminta pertolongan dan mereka melihat kami dan menolong beserta penumpang lainnya,”ujar mengakhiri ceritanya seraya mengungkapkan tujuannya ke Pagatan untuk mudik Lebaran menemui orangtuanya.

Menurut manifes, para penumpang speedboat tersebut adalah Ojek, Odel, Uji, Rudi, Uli, Iyan, Fitri, Titin, Imin, H Suryan, Indrawati (meninggal), Diana, Nanda, H Agrae, Delvi, Adau, Neli susanti, Iwan Novianto, Wanti, Jabir, Zain, Ahmad, Afan, Wati. Mereka semua penumpang dewasa. Untuk yang anak-anak, Hafifah, Novi, Fahri (hilang), Ulfa (meninggal), Ara, Rido, Zaitun, Adjafa’ar, Wahyu (hilang).

TRAGEDI DI SUNGAI KAPUAS

Sementara di Sungai Kapuas, tepatnya di Desa Panamas, Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas, kapal feri bermuatan lebih 60 orang penumpang dan awak kapal serta puluhan kendaraan roda dua dan empat, mengalami kebocoran dan tenggelam saat di tengah sungai. Dalam peristiwa itu, 19 orang dipastikan tewas. Puluhan kendaraan pun masih terbenam di dasar sungai, tak ditemukan.

Tenggelamnya kapal feri tradisional bernama Berkah Bersaudara itu mengejutkan warga sekitar. Saat berada di tengah Sungai Kapuas tiba-tiba feri yang tidak layak digunakan tersebut bocor dan tenggelam bersama seluruh penumpangnya.

Sementara puluhan korban yang selamat dan yang lebih dahulu ditemukan, langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum dr Sumarno, Kuala Kapuas. Sementara sebagian besar penumpang yang selamat masih dalam keadaan trauma dan tidak sadarkan diri.

Petugas dari Tim SAR dibantu sejumlah pihak tampak mengevakuasi motor dari Kapal Feri yang karam.
Petugas dari Tim SAR dibantu sejumlah pihak tampak mengevakuasi motor dari Kapal Feri yang karam.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho pada Rabu lalu (30/7/2014), 12 korban tewas yang telah diidentifikasi adalah Anita (20), Lia (25), Muslim (7), Angga (9), Zainal H (38), Supiyani (23), Anas Ima E (6), Hj Rukayah (45), Samsuni (35), Rosmah Yulidah (44), Yuliyani (20, dan Muhritah (15). Sementara korban selamat keseluruhan berjumlah 52 orang dengan 5 orang di antaranya masih dirawat di rumah sakit.

Sementara Tim Search and Rescue (SAR) gabungan dari Badan SAR Nasional (Basarnas), Polri, TNI, BPBD, PMI, SKPD, relawan dan masyarakat yang terjun mencari dan menelusuri Sungai Kapuas. Mereka juga menyelam mencari kendaraan milik penumpang kapal yang tenggelam dengan bantuan penyelam tradisional.

Penyebab tenggelamnya kapal diduga feri tersebut melebihi kapasitasnya. Dalam manifes tercatat 60 orang penumpang, namun diperkirakan jumlah penumpang kapal itu melebihi dari jumlah tersebut. sedangkan 3 orang selaku motoris, ABK, dan pemilik kapal telah ditahan pihak polisi untuk mempertanggungjawabkan kecelakaan tersebut.

Sementara dua orang di antaranya telah ditetapkan tersangka, yakni IW (29) dan nakhoda AR (19) menjadi tersangka. Penetapan tersangka itu dilakukan setelah penyidik melakukan pemeriksaan secara marathon terhadap saksi. Kasat Reskrim Polres Kapuas, AKP Rohman Yonky mengatakan dari hasil pendalaman dan bukti yang didapat, penyidik berkeyakinan bahwa insiden yang menyebabkan 19 orang tewas karena kelalaian pemilik kapal dan nakhoda.

Untuk memperkuat jeratan hukum kepada IW dan AR, penyidik juga akan segera memanggil Dinas Perhubungan atas pemberian izin operasi kepada feri Berkah Bersaudara. “Kami juga akan memanggil Dinas Perhubungan Kabupaten Kapuas yang memberikan ijin beroperasinya kapal tersebut. Kami juga masih meminta keterangan dari kedua pelaku ini, karena masih ada perbedaan dan pengakuan yang berbeda-beda berkaitan dengan jumlah penumpang,” katanya.

PENGAWASAN

Tenggelamnya kapal feri di tengah keceriaan perayaan Idul Fitri di Sungai Kapuas, mengundang keprihatinan masyarakat setempat. Salah satu tokoh masyarakat setempat, Abdul Majid mengaku sangat menyayangkan tidak adanya pengawasan terhadap arus lalu lintas air yang menggunakan feri itu. “Pada hari raya seperti saat ini arus lalu lintas pasti terjadi peningkatan,” kata Majid.

Semestinya, lanjut dia, harus ada pengawasan untuk membatasi jumlah penumpang dan kelaikan kapal yang digunakan. “Kami sangat menyesalkan adanya musibah ini. Hal ini tidak akan terjadi kalau ada pengawasan dan pencegahan,” kata dia.

Di Banjarmasin, Kalsel, akibat tenggelamnya Feri Berkah Bersaudara, aparat Satpol Air Polresta Banjarmasin melakukan pengawasan ketat terhadap kapal-kapan feri penyeberangan, khususnya yang berada di Dermaga Pasar Terapung Alalak Banjarmasin Utara ke Desa Jalapat, Tamban, Kabupaten Barito Kuala (Batola).

Kasat Pol Air Polresta Banjarmasin AKP Untung Wibowo menyatakan, pihaknya sangat mengawasi kafasitas muatan kapal motor feri penyeberangan di Banjarmasin, untuk menghindari terjadinya sebagainya kejadian kecelakaan arus lalulintas sungai di Kapuas, Kalimantan Tengah, di mana salah satu kapal feri penyeberangan di wilayah itu karam akibat muatan melebihi kafasitas, dan menimbulkan banyak korban jiwa.

“Sebelum adanya kejadian kecelakan kapal feri di sungai Kapuas itu, kita sudah sangat mengawasi kafasitas muatan kapal penyeberangan di sungai kita ini, termasuk yang sangat diawasi kapal feri penyeberangan di wilayah Banjarmasin Utara dan Tamban Batola itu,” ujar Untung.

Demikian juga, Tambah Untung, kondisi cuaca dan fisik kapal yang beroprasi, harus sangat diawasi, sebab harus memiliki standar keselamatan bagi para penumpang.

Dia mengatakan, kapal feri penyeberangan yang dermaganya berada di wilayah Alalak itu pada terjadinya arus mudik tadi hingga memasuki arus balik masa ini masih beroprasi cukup normal, demikian juga penumpangnya tidak terlalu signifikan bertambah.

Jika terjadi kafasitas muatan diatas kewajaran, pihaknya akan tegur. “Namun sampai saat ini, arus balik yang menggunakan jasa kapal feri penyeberangan kewilayah Tamban itu masih normal, tidak terlalu membeludak kedatangan penumpangnya,” ungkap Untung.

Kapal motor kayu yang juga memuat kendaraan bermotor roda dua itu, papar Untung lagi, tetap beroprasi sebanyak yang ada, tidak ada penambahan armada kapal lagi selain yang biasa beroprasi setiap harinya.

Dia menyatakan, kondisi ini diperkirakan karena banyak pemudik atau warga yang ingin balik lebaran lebih memilih jalur lalulintas darat yang kini bisa ditempuh lewat Tras Kalimantan Anjir, yakni, menyeberang lewat jembatan Barito untuk ke wilayah Tamban itu. “Sekarang jalur menuju Tamban sudah ada jalan daratnya, jadi mungkin masyarakat lebih banyak juga memilih jalur darat itu,” paparnya.

Sementara ini, kata Untung, arus lalulintas di jalur sungai di wilayah hukum Banjarmasin cukup terkendali dan lancar, hampir tidak ada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kecelakan lalulintas sungai. “Dan ini kita harapkan terus berlanjut, arus mudik dan balik lebaran di daerah kita terus berjalan lancar, dam warga bisa sampai kerumah atau tujuan dengan selamat dan bisa berkumpul bahagia beserta keluarganya merayakan Hari Raya Idul Fitri 1435 H ini,” pungkasnya. [] Ant/JPNN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *