Pendampingan Bentoel Group Berbuah Hasil, 19 UMKM Jakarta Lolos Jakpreneur
JAKARTA – Pendampingan usaha tanpa bantuan modal yang dijalankan Bentoel Group membuahkan hasil bagi pelaku usaha mikro. Sebanyak 19 dari 25 peserta Empower Academy di Jakarta Barat berhasil bergabung dalam program Jakpreneur, sehingga berpeluang memperoleh akses pasar melalui pesanan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Keberhasilan tersebut menjadi salah satu capaian program pemberdayaan usaha mikro yang dikembangkan Bentoel Group melalui inisiatif Bangun Bangsa. Program ini menitikberatkan pada peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan, pendampingan, penguatan jejaring, dan peningkatan kompetensi bisnis agar mampu berkembang secara berkelanjutan.
Head of Corporate & Regulatory Affairs Bentoel Group Dian Widyanarti mengatakan inisiatif Bangun Bangsa dirancang untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada kelompok masyarakat yang selama ini belum banyak memperoleh akses terhadap program pemberdayaan.
“Bangun Bangsa Conference pertama kali kami gelar pada 2024. Program ini bertujuan memberi ruang bagi kelompok masyarakat yang selama ini kurang terlihat, seperti penyandang disabilitas dan pelaku usaha mikro, agar memperoleh akses, pengakuan, dan kesempatan berkembang,” ujar Dian di acara Bangun Bangsa di Jakarta, Kamis (06/08/2026), sebagaimana diberitakan Kompas, Kamis (06/08/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang berbagi pengalaman (sharing and learning) yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga organisasi masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dian menjelaskan capaian paling nyata terlihat di Jakarta Barat. Dari total 25 pelaku usaha mikro yang mengikuti Empower Academy, sebanyak 19 peserta berhasil masuk ke dalam Jakpreneur. Selain memperoleh akses pasar, para peserta juga mendapatkan pendampingan untuk mengurus sertifikasi halal guna meningkatkan daya saing produk.
“Program Empower Academy di Jakarta Barat melibatkan pemerintah daerah hingga tingkat kelurahan dan dinas sosial. Dari 25 peserta UMKM mikro yang mengikuti program, sebanyak 19 pelaku usaha telah masuk ke dalam Jakpreneur,” kata dia.
Sementara itu, President Director Bentoel Group William Lumentut menegaskan pendekatan yang diterapkan perusahaan berbeda dengan program bantuan sosial pada umumnya. Perusahaan memilih memperkuat kapasitas pelaku usaha melalui transfer pengetahuan, pelatihan, dan pembukaan akses jaringan usaha dibandingkan memberikan bantuan modal secara langsung.
“Program ini merupakan bentuk community investment, bukan sekadar program CSR. Fokusnya bukan memberikan bantuan dana, melainkan pendampingan, pelatihan, berbagi pengetahuan, serta membuka akses jaringan bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar William.
Ia menjelaskan program tersebut pertama kali dijalankan di Kota Malang pada 2024, kemudian diperluas ke empat kota dan kabupaten, termasuk Jakarta dan Temanggung. Pengembangan wilayah dilakukan untuk memperluas dampak sosial melalui sinergi antara sektor swasta, pemerintah, dan perguruan tinggi.
“Kami ingin memberikan inspirasi kepada pelaku usaha lain, akademisi, dan pemerintah agar bisa bekerja sama dalam memberdayakan masyarakat,” ucapnya.
William mengungkapkan hasil pendampingan juga tercermin dari peningkatan kinerja usaha para peserta. Kelompok penyandang disabilitas yang mengikuti program mampu meningkatkan usahanya sekitar 40 persen, sedangkan sejumlah pelaku usaha mikro di Jakarta mencatat pertumbuhan usaha hingga 100 persen atau dua kali lipat dibandingkan sebelum mengikuti pendampingan.
Ke depan, Bentoel Group berkomitmen memperluas model community investment melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar manfaat program semakin besar dan mampu menciptakan usaha yang mandiri serta berkelanjutan.
“Pendampingan kami fokus pada perencanaan bisnis dan keberlanjutan usaha agar setelah program selesai mereka tetap bisa berkembang secara mandiri,” tegas William. []
Redaksi01
