Pendampingan Jadi Kunci, 200 UMKM Dibina LAZISNU dan Baznas di Empat Daerah

JAKARTA – Fokus program kolaborasi Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LAZISNU PBNU) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI tidak hanya pada penyaluran modal usaha, tetapi pada pendampingan jangka panjang bagi 200 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di empat daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi dan kerentanan sosial.

Program senilai Rp2,6 miliar itu akan menyasar pelaku UMKM di Indramayu, Jawa Barat (Jabar); Jember, Jawa Timur (Jatim); Serang, Banten; dan Pringsewu, Lampung. Bantuan terdiri atas Rp2 miliar dari Baznas dan Rp600 juta dari LAZISNU PBNU berupa gerobak usaha, modal usaha, hingga pendampingan selama dua tahun.

Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU, Riri Khariroh, mengatakan penguatan UMKM diproyeksikan menjadi model pemberdayaan ekonomi umat berbasis kolaborasi antarlembaga. “Kita ingin bahwa program ini menjadi best practice kerja sama antara LAZISNU dan BAZNAS untuk peningkatan ekonomi umat,” ujarnya saat pembukaan sinergi program pemberdayaan UMKM di Gedung PBNU, Jakarta, sebagaimana dilansir Nu Online, Jumat (22/05/2026).

Menurut Riri, empat wilayah tersebut dipilih karena memiliki kantong kemiskinan yang tinggi, sekaligus dinilai rentan terhadap isu radikalisme. Selain itu, daerah tersebut juga memiliki lingkungan pesantren yang dinilai berpotensi dikembangkan dari sisi ekonomi.

“Wilayah-wilayah yang rentan terkait dengan isu-isu radikalisme dan juga kantong kemiskinan, di wilayah ini juga banyak pesantren yang mau berkembang ekonominya. Setiap masing-masing daerah itu sekitar 50 penerimanya,” katanya.

Ia menjelaskan penerima bantuan difokuskan pada pelaku usaha makanan dan minuman, seperti pedagang gorengan dan penjual minuman, agar pengembangan usaha lebih terarah dan mudah dipantau.

“Pedagang gorengan kemudian minuman-minuman akan menjadi fokus dari UMKM yang akan dikembangkan,” ucapnya.

Riri berharap jumlah penerima manfaat dapat terus bertambah selama proses pemberdayaan berjalan, seiring munculnya UMKM baru yang bergabung dalam jejaring binaan.

“Alhamdulillah laporan yang kami dapat dari daerah, sebulan itu dua UMKM tambahan muncul menjadi bagian dari jaringan UMKM-nya NU Care-LAZISNU. Nanti bisa kita kembangkan untuk wilayah-wilayah yang lebih luas,” ujarnya.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup, Aizzudin Abdurrahman, menilai program tersebut dapat membantu meringankan beban masyarakat sekaligus membuka peluang perluasan manfaat ekonomi ke daerah lain.

“Kehadiran LAZISNU setidaknya mengurangi beban (penerima manfaat) dan bisa mencakup (daerah) lebih luas agar ekonomi bisa lebih tinggi,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Baznas, Zainut Tauhid Sa’adi, menegaskan pendampingan intensif menjadi kunci agar penerima manfaat tidak hanya memperoleh modal, tetapi mampu tumbuh mandiri dan berkelanjutan.

“Tentu kami tidak lepas begitu saja, ada pendampingan dan dapat memberikan dampak yang berkelanjutan,” katanya.

Ia berharap penerima manfaat dapat bertransformasi dari mustahik atau penerima bantuan menjadi muzakki atau pemberi zakat di masa mendatang, terutama di lingkungan pesantren.

“Kita berharap di daerah tersebut juga memastikan ada peningkatan, para mustahik atau yang mendapatkan bantuan, semoga tahun berikutnya menjadi muzakki, terutama di lingkungan pesantren,” ujar Zainut. []

Penulis: Rikhul Jannah | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *