Pengeboran 900 Sumur Pertamina Buka Peluang Pasar Baru bagi Industri Sagu
JAKARTA – Industri sagu nasional berpeluang memperoleh pasar baru dari sektor energi setelah pemerintah mendorong pemanfaatan pati sagu sebagai bahan pendukung pengeboran sumur minyak PT Pertamina (Persero). Dengan kebutuhan sekitar 10 ton sagu untuk setiap sumur dan potensi penerapan pada 900 sumur, peluang permintaan komoditas lokal tersebut diperkirakan mencapai 9.000 ton.
Peluang tersebut muncul setelah uji coba penggunaan sagu dalam kegiatan pengeboran minyak di dua sumur menunjukkan hasil yang baik. Pemerintah kini mendorong perluasan penerapannya sekaligus menyiapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) agar pemanfaatan bahan baku lokal tersebut memiliki standar yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengatakan, peningkatan penggunaan sagu merupakan bagian dari upaya memperbesar pemanfaatan produk dalam negeri di sektor energi. Pemerintah juga membahas peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) bersama Pertamina, sebagaimana diberitakan Antara, Jumat (06/11/2026).
“Kami menerima Pertamina membicarakan tentang peningkatan komponen TKDN. Penggunaan produk dalam negeri. Pertamina punya komitmen untuk terus menjaga agar penggunaan produk dalam negeri itu menjadi lebih tinggi lagi sesuai dengan standar yang sudah kita tetapkan,” kata Sarmuji di Jakarta, Kamis (05/11/2026).
Menurut Sarmuji, keberhasilan uji coba pada dua sumur menjadi dasar untuk memperluas penggunaan sagu dalam proses drilling atau pengeboran. Pemerintah selanjutnya akan menyiapkan standar teknis sebagai landasan penerapan bahan baku tersebut dalam kegiatan operasional industri minyak.
“Kami meminta kepada Pertamina untuk memperluas penggunaan sagu dalam proses drilling ini. Uji coba sudah dilaksanakan, tinggal SNI-nya nanti kita siapkan,” ujar Sarmuji.
Jika kebutuhan tersebut diterapkan pada sekitar 900 sumur Pertamina, potensi konsumsi sagu dapat mencapai 9.000 ton. Besarnya kebutuhan ini membuka peluang bagi industri pengolahan sagu untuk memperluas kapasitas produksi sekaligus membangun kemitraan dengan perusahaan energi.
Salah satu daerah yang berpotensi mendukung pasokan bahan baku tersebut adalah Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Wilayah ini telah menjalin kerja sama dengan perusahaan pengolah pati untuk memperkuat kapasitas industri sagu dalam negeri.
Pemerintah menilai ketersediaan bahan baku lokal menjadi salah satu faktor pendukung pengembangan penggunaan sagu di sektor pengeboran. Selain memperluas pasar, pemanfaatannya diharapkan meningkatkan nilai tambah komoditas yang selama ini memiliki potensi pengembangan di sektor pangan maupun industri.
Dukungan terhadap peningkatan penggunaan produk lokal juga disampaikan Direktur Logistik dan Infrastruktur PT Pertamina (Persero) Jaffee Arizon Suardin. Ia menyebut kebutuhan komponen dalam negeri di lingkungan perusahaan cukup besar sehingga kolaborasi dengan industri nasional perlu diperkuat.
“Dan tentunya di Pertamina sebagai BUMN, banyak industri-industri yang membutuhkan TKDN tersebut,” katanya.
Jaffee mengatakan, Pertamina telah menyampaikan kepada Kementerian Perindustrian rencana melibatkan pemilik perusahaan dan penyedia teknologi dalam negeri untuk membangun kerja sama yang lebih erat.
Pertamina juga akan menyiapkan sistem temu bisnis untuk mempertemukan kebutuhan perusahaan dengan produk serta kemampuan industri nasional. Langkah tersebut diharapkan mempermudah perusahaan memperoleh produk lokal yang sesuai dengan kebutuhan operasionalnya.
“Kami tentunya siap berkolaborasi dengan Pak Menteri dan unsur pemerintah lainnya agar upaya ini dapat terlaksana dengan cepat,” ujar Jaffee.
Pengembangan penggunaan sagu dalam pengeboran minyak berpotensi mempertemukan dua sektor yang selama ini memiliki rantai usaha berbeda, yakni industri pengolahan hasil pertanian dan industri energi. Namun, realisasi peluang pasar tersebut tetap bergantung pada kesiapan standar teknis, kapasitas pasokan, serta keberlanjutan kerja sama antara produsen sagu dan Pertamina.
Apabila penerapannya diperluas, kebutuhan industri energi dapat menjadi salah satu penggerak pertumbuhan industri sagu nasional, sekaligus memperkuat hilirisasi dan meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal. []
Redaksi01
