Ritel Modern Jadi Pintu UMKM Menembus Pasar Ekspor

0
Ritel Modern Jadi Pintu UMKM Menembus Pasar Ekspor

BANDUNG – Jaringan ritel modern didorong menjadi salah satu jalur bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan standar kualitas produk sebelum memperluas pemasaran ke pasar global. Pemerintah menilai, keberhasilan menembus jaringan ritel dapat menjadi modal penting bagi produk lokal untuk memperkuat daya saing sekaligus membuka peluang ekspor.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, pemerintah akan memfasilitasi pelaku UMKM agar mampu memenuhi standar pasar domestik dan internasional. Pembinaan serta pendampingan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas produk lokal sehingga dapat diterima jaringan perdagangan modern.

“Kalau sudah masuk di ritel, berarti untuk ekspor akan lebih mudah. Ya, jadi kami akan memfasilitasi tidak hanya untuk pasar dalam negeri, tetapi juga pasar ekspor,” ucapnya dalam kegiatan Kick-off Hari Ritel Nasional di Kota Bandung, Senin (02/11/2026).

Menurut Budi, peningkatan kualitas produk tidak hanya berdampak terhadap perluasan pasar, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan konsumen. Produk yang memenuhi standar dinilai dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus mendukung daya beli melalui ekosistem perdagangan yang sehat.

“Kalau produknya bagus, produknya berkualitas, konsumen otomatis terlindungi dan ini juga meningkatkan daya beli masyarakat karena ekosistemnya sudah berjalan dengan baik,” katanya.

Budi menyebut sekitar 80 persen produk UMKM telah masuk ke jaringan ritel modern. Kondisi tersebut menjadi peluang untuk memperbesar kapasitas usaha lokal, meskipun pemerintah masih perlu mendorong pengembangan produk dan memperkuat ekosistem perdagangan agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

“Kalau sudah masuk ke ritel modern sebenarnya itu akan lebih mudah untuk masuk pasar global, ya. Jadi, kami ingin pasar yang besar ini menjadi ruang tumbuh bagi industri lokal, ya, kemudian pasar global itu bagaimana bisa meningkatkan kapasitas produksi kita untuk ekspor,” ucapnya.

Ia menegaskan, penguatan produk UMKM merupakan bagian dari upaya Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Pelaku usaha kecil diharapkan memperoleh ruang pemasaran dan berkembang menjadi perusahaan yang mampu bersaing dengan produk lain.

“Pada prinsipnya kan bagaimana selalu disampaikan oleh Bapak Presiden, kami terus menumbuhkan ekonomi kerakyatan. Salah satunya adalah bagaimana menumbuhkan produk-produk lokal kita yang dari kecil, dari UMKM kemudian kami kasih tempat, kami kasih akses pasar untuk bisa mengembangkan dan nantinya diharapkan menjadi perusahaan yang besar, bisa bersaing dengan produk-produk yang lain, ya. Saya kira gitu ya,” ucapnya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung juga melihat sektor ritel sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, aktivitas perdagangan ritel memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sehingga perlu didukung iklim persaingan usaha yang sehat.

“Bisnis ritel di Kota Bandung sekarang memiliki volume yang sangat besar dengan kemampuan daya serap tenaga kerja yang sangat baik,” ucapnya.

Ia menilai, persaingan usaha yang sehat perlu dijaga agar sektor tersebut dapat terus berkontribusi terhadap perekonomian daerah.

“Untuk itu, dengan iklim persaingan usaha yang sangat sehat di Kota Bandung ini, bisnis ritel harus menjadi salah satu sektor yang akan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin menyatakan, produk UMKM telah mendominasi barang yang dipasarkan di jaringan ritel modern. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang kolaborasi lebih luas antara pelaku UMKM dan perusahaan ritel untuk meningkatkan penjualan.

“Ritel modern pada saat ini produk-produk UMKM sudah menjadi mayoritas. Nah ini menjadi komitmen kita bersama bagaimana bisa berkolaborasi dengan meningkatkan daripada penjualan di ritel-ritel modern,” ucapnya.

Dorongan memperkuat kemitraan antara UMKM dan ritel modern diharapkan tidak berhenti pada penempatan produk di rak penjualan. Peningkatan mutu, konsistensi pasokan, kapasitas produksi, dan kemampuan memenuhi standar pasar menjadi faktor penting agar produk lokal dapat mempertahankan kepercayaan konsumen serta memiliki peluang lebih besar memasuki pasar ekspor.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan Hari Ritel Nasional sebagaimana diberitakan Kompas, Senin, (02/11/2026). []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *