Rupiah Jadi yang Terkuat di Asia, Ditutup Rp17.887 per Dolar AS
JAKARTA – Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan penutupan paling tinggi di kawasan Asia pada perdagangan Rabu (07/10/2026), meski mayoritas mata uang regional bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.887 per dolar AS, menguat dari posisi sebelumnya Rp17.899 per dolar AS.
Penguatan tersebut membuat rupiah naik sekitar 0,07% dibandingkan penutupan perdagangan Selasa (06/10/2026). Pergerakan rupiah berbanding terbalik dengan sebagian besar mata uang Asia yang tertekan pada perdagangan hari yang sama.
Data perdagangan hingga pukul 15.00 WIB menunjukkan rupee India menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terdalam, yakni anjlok 0,38%. Setelahnya, dolar Taiwan melemah 0,29% dan baht Thailand turun 0,18%.
Tekanan juga terjadi pada dolar Singapura yang terkoreksi 0,15%. Ringgit Malaysia melemah 0,05%, sedangkan dolar Hong Kong turun tipis 0,003% terhadap dolar AS.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia masih mampu mencatat penguatan meski dalam kisaran terbatas. Peso Filipina menguat 0,02%, sementara yen Jepang dan won Korea Selatan masing-masing naik 0,01%.
Dengan posisi tersebut, rupiah mencatat kinerja penutupan paling kuat di antara mata uang Asia yang dipantau pada perdagangan Rabu. Kondisi itu menunjukkan rupiah masih mampu bertahan ketika sentimen terhadap mata uang regional cenderung tertekan.
Pergerakan mata uang Asia tersebut terjadi di tengah perhatian pasar terhadap kondisi global, termasuk perkembangan harga minyak dan tingginya imbal hasil surat utang Amerika Serikat yang turut memengaruhi arah aliran dana serta nilai tukar di kawasan.
Perkembangan rupiah dan mata uang Asia menjadi perhatian pelaku pasar karena perubahan nilai tukar dapat memengaruhi biaya impor, arus perdagangan, hingga sentimen investasi di pasar domestik, sebagaimana diberitakan Kontan, Rabu, (07/10/2026). []
Redaksi01
