Rupiah Kembali Menguat, Ditutup di Rp17.798 per Dolar AS
JAKARTA – Rupiah kembali mengakhiri perdagangan dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (17/08/2026). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.798 per dolar AS, menguat 0,16 persen dibandingkan posisi akhir perdagangan Jumat (14/08/2026) yang berada di Rp17.827 per dolar AS.
Penguatan rupiah tersebut terjadi bersamaan dengan mayoritas mata uang Asia yang bergerak positif terhadap dolar AS. Kondisi ini membuat rupiah mampu mempertahankan tren penguatan hingga perdagangan ditutup.
Sebagaimana dilansir Kontan, Senin (17/08/2026), pergerakan mata uang kawasan Asia menunjukkan kecenderungan menguat. Pada perdagangan hingga pukul 15.00 WIB, dolar Taiwan dan ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar, masing-masing naik 0,61 persen.
Baht Thailand menyusul dengan apresiasi 0,55 persen. Kemudian won Korea Selatan menguat 0,28 persen, sedangkan yen Jepang naik 0,23 persen.
Dolar Singapura juga mencatat penguatan sebesar 0,22 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, yuan China naik 0,08 persen dan dolar Hong Kong menguat tipis 0,03 persen.
Pergerakan positif mata uang Asia tersebut menunjukkan rupiah tidak bergerak sendirian. Penguatan mata uang kawasan menjadi salah satu gambaran dinamika pasar valuta asing Asia pada awal pekan.
Di sisi lain, tidak seluruh mata uang Asia mampu mencatat penguatan. Rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan paling dalam pada perdagangan tersebut setelah turun 0,19 persen terhadap dolar AS.
Peso Filipina juga berada di zona merah dengan penurunan tipis 0,05 persen terhadap dolar AS. Pelemahan kedua mata uang tersebut menjadi kontras dengan penguatan yang terjadi pada sebagian besar mata uang utama Asia.
Dengan posisi penutupan Rp17.798 per dolar AS, rupiah menguat Rp29 dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan tersebut memperlihatkan rupiah mampu menjaga momentum positif di tengah dinamika pasar valuta asing regional.
Perkembangan nilai tukar rupiah dan mata uang Asia akan tetap menjadi perhatian pelaku pasar, terutama dalam melihat arah pergerakan mata uang kawasan terhadap dolar AS pada perdagangan berikutnya. []
Redaksi01
