Rupiah Kembali Menguat, Tinggalkan Level Rp18.000 per Dolar AS

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali bergerak ke zona positif pada awal perdagangan Selasa (07/07/2026) dengan meninggalkan level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan mata uang domestik terjadi di tengah perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter AS serta rilis cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan pada hari yang sama.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah dibuka menguat 0,08 persen ke posisi Rp17.970 per dolar AS. Pergerakan tersebut menjadi pemulihan setelah pada penutupan perdagangan Senin (06/07/2026) rupiah melemah 0,22 persen ke level Rp17.985 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS (U.S. Dollar Index/DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, hingga pukul 09.00 WIB tercatat naik tipis 0,05 persen ke level 100,899. Kenaikan tersebut menunjukkan mata uang AS masih bertahan relatif kuat di pasar global.

Pergerakan rupiah diperkirakan masih dipengaruhi dinamika eksternal, terutama setelah laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja lebih rendah dari perkiraan pasar. Kondisi itu meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS, yaitu The Federal Reserve (The Fed), dalam waktu dekat.

Sebelumnya, dolar AS membukukan kinerja mingguan terburuk sejak April setelah data nonfarm payrolls memperlihatkan perlambatan penciptaan lapangan kerja pada Juni. Ekonomi AS hanya menambah 57.000 lapangan pekerjaan, jauh di bawah proyeksi pasar. Pelemahan tersebut turut dipengaruhi penurunan harga minyak dunia yang menekan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed.

Investor kini menantikan publikasi risalah rapat The Fed yang dijadwalkan pada Rabu waktu setempat. Dokumen hasil pertemuan 16–17 Juni itu diperkirakan menjadi acuan pasar dalam membaca arah kebijakan suku bunga AS pada periode mendatang.

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data cadangan devisa Juni 2026 oleh Bank Indonesia (BI). Sebelumnya, posisi cadangan devisa Indonesia berada di level 144,9 miliar dolar AS setelah dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah intervensi stabilisasi nilai tukar rupiah.

Meski mengalami penurunan pada periode sebelumnya, cadangan devisa tersebut masih dinilai memadai karena mampu membiayai sekitar 5,6 bulan impor. Pelaku pasar akan mencermati apakah posisi cadangan devisa kembali meningkat sebagai penopang stabilitas nilai tukar rupiah, sebagaimana diberitakan CNBC Indonesia, Selasa (07/07/2026). []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *