Rupiah Melemah, Permintaan Serviced Apartment Jakarta Meningkat
JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mendorong meningkatnya permintaan hunian serviced apartment dari perusahaan asing dan ekspatriat di Jakarta. Kondisi tersebut terjadi karena sebagian besar tarif sewa serviced apartment masih menggunakan mata uang rupiah, sementara anggaran perusahaan multinasional umumnya disusun dalam dolar AS sehingga daya beli penyewa meningkat.
Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan tren tersebut berdampak pada meningkatnya tingkat hunian (occupancy) di segmen serviced apartment yang sebelumnya mengalami pertumbuhan penyewa relatif terbatas. Dengan kurs yang lebih menguntungkan, perusahaan asing memiliki keleluasaan memilih unit yang lebih besar atau fasilitas yang lebih baik tanpa menambah anggaran.
“Segmen ini justru memperoleh manfaat dari pelemahan nilai tukar rupiah sebagian besar tarif serviced apartment ini memang menggunakan rupiah. Sementara banyak perusahaan multinasional yang memberi anggaranya masih dalam US dollar. Jadi akibatnya daya beli perusahaan justru meningkat sehingga mereka dapat memperoleh unit yang lebih besar atau dengan kualitas yang lebih baik tanpa harus nambah anggaran,” kata Ferry Salanto dalam acara Virtual Media Briefing kuartal II, Rabu (08/07/2026), sebagaimana diberitakan Detikproperti, Rabu (08/07/2026).
Menurut Ferry, kondisi tersebut belum memberikan dampak negatif bagi pemilik properti. Tarif sewa masih relatif stabil karena permintaan terus mengalir, sehingga belum ada kebutuhan untuk melakukan penyesuaian harga secara signifikan.
“Untuk tarif sewanya, hingga saat ini memang masih relatif stabil. Namun kami melihat adanya peluang penyesuaian harga pada siklus akhir tahun 2026 sampai hingga awal 2027 dengan membaiknya okupansi dan berlanjutnya permintaan dari perusahaan-perusahaan asing,” jelasnya.
Ia memperkirakan penyesuaian tarif sewa baru berpotensi terjadi pada akhir 2026 hingga awal 2027 apabila tingkat hunian terus meningkat seiring berlanjutnya permintaan dari perusahaan asing yang menempatkan tenaga kerjanya di Indonesia.
Meski prospek pasar membaik, Ferry menilai pengembang belum akan menambah pasokan unit dalam waktu dekat. Saat ini jumlah serviced apartment di Jakarta masih berkisar 7.000 hingga 8.000 unit dan dinilai masih jauh lebih sedikit dibandingkan apartemen umum yang tersedia untuk masyarakat.
“Untuk tarif sewanya, hingga saat ini memang masih relatif stabil namun kami melihat adanya peluang penyesuaian harga pada siklus akhir tahun 2026 sampai hingga awal 2027 dengan membaiknya okupansi dan berlanjutnya permintaan dari perusahaan-perusahaan asing,” tutur Ferry.
Ferry menjelaskan mayoritas penghuni serviced apartment merupakan tenaga kerja asing yang tinggal di Indonesia untuk jangka waktu tertentu, mulai beberapa bulan hingga tahunan. Hunian jenis tersebut umumnya berlokasi di kawasan pusat bisnis seperti Central Business District (CBD), Sudirman, TB Simatupang, dan Kuningan yang menjadi pusat aktivitas perusahaan multinasional.
“Serviced apartment ini menjadi salah satu segmen hunian yang memiliki prospek cukup positif dalam jangka pendek,” imbuhnya. []
Redaksi01
