Taspen Pilih Langkah Konservatif, Laba 2025 Turun Jadi Rp1,04 Triliun

JAKARTA – PT Taspen (Persero) menegaskan kebijakan pembentukan cadangan penurunan nilai aset investasi menjadi faktor utama yang menyebabkan laba perusahaan pada 2025 turun menjadi Rp1,04 triliun. Kebijakan tersebut ditempuh sebagai langkah kehati-hatian dalam mengelola portofolio investasi meski kinerja hasil investasi justru mengalami peningkatan.

Direktur Utama (Dirut) PT Taspen (Persero) Rony Hanityo Aprianto menjelaskan penurunan laba bukan dipicu melemahnya hasil investasi, melainkan karena perusahaan meningkatkan pembentukan pencadangan penurunan nilai (impairment) terhadap sejumlah instrumen investasi yang dinilai memiliki potensi risiko. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) di Jakarta, Rabu (08/07/2026), sebagaimana dilansir Liputan6, Rabu (08/07/2026).

“Sebagai bentuk kehati-hatian dan konservatif kita dalam mengelola Taspen, ada satu pos yang mengurangi laba cukup tinggi yaitu pos impairment,” kata Rony dalam RDP bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (08/07/2026).

Berdasarkan paparan perusahaan, nilai impairment sepanjang 2025 mencapai Rp1,82 triliun, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp288 miliar. Pencadangan tersebut antara lain dilakukan terhadap sejumlah obligasi badan usaha milik negara (BUMN) sektor karya yang masih menghadapi tantangan.

Meski demikian, Taspen menegaskan bahwa pembentukan cadangan tersebut bukan merupakan kerugian permanen. Nilai cadangan masih berpotensi dipulihkan apabila instrumen investasi yang menjadi objek pencadangan menunjukkan perbaikan kondisi, mengalami restrukturisasi, memperoleh peningkatan peringkat, atau dilunasi saat jatuh tempo.

“Kalau impairment ini nantinya obligasi tersebut jatuh tempo atau surat utang tersebut jatuh tempo, itu bisa kita reverse atau kita balikin,” ujarnya.

Rony mengungkapkan, tanpa adanya pembentukan impairment, laba perusahaan pada 2025 diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp2 triliun. Namun, perusahaan memilih menerapkan pendekatan konservatif dalam penyusunan laporan keuangan guna mengantisipasi risiko investasi.

Di tengah penurunan laba, kinerja investasi Taspen justru menunjukkan tren positif. Hasil investasi sepanjang 2025 mencapai Rp9,87 triliun atau meningkat dibandingkan Rp9,01 triliun pada 2024. Sementara itu, pendapatan iuran dan premi tercatat Rp7,74 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp8,69 triliun pada tahun sebelumnya.

Menurut Rony, peningkatan hasil investasi menjadi penopang utama kinerja keuangan perusahaan di tengah tingginya beban klaim yang mencapai Rp14,90 triliun. Pada saat yang sama, rasio klaim Program Tabungan Hari Tua (THT) juga meningkat menjadi 264 persen dari sebelumnya 256 persen.

“Yang menolong bottom line Taspen tetap positif itu adalah hasil investasi,” ungkap Rony.

Selain hasil investasi yang meningkat, yield on investment (YOI) atau imbal hasil investasi juga naik dari 7,66 persen pada 2024 menjadi 8,21 persen pada 2025. Total aset Program THT, Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Program Jaminan Kematian (JKM) turut meningkat menjadi Rp156,79 triliun dari Rp149,55 triliun pada tahun sebelumnya.

Dalam RDP tersebut, Komisi VI DPR RI turut memberikan perhatian terhadap lonjakan nilai impairment dan meminta Taspen memastikan seluruh pengelolaan investasi tetap dilaksanakan secara prudent. Menanggapi hal itu, Rony menegaskan seluruh investasi perusahaan dilakukan sesuai ketentuan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) serta Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK).

“Untuk investasi, kita itu diatur sama Peraturan Menteri Keuangan. Jadi tidak boleh keluar dari rambu-rambu di situ. Begitu juga instrumennya kita ikut sama POJK,” tuturnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *