Rupiah Tertekan ke Rp16.810, Dolar AS Makin Perkasa

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Selasa (28/04/2026), seiring meningkatnya minat investor global terhadap aset aman di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter internasional.

Pada pukul 09.08 WIB, rupiah dibuka melemah 33 poin atau sekitar 0,2 persen ke level Rp16.810 per dolar AS, melanjutkan tren depresiasi setelah sehari sebelumnya ditutup di posisi Rp16.776 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang domestik dipicu oleh penguatan indeks dolar AS yang naik tipis 0,04 persen ke level 97,65. Kondisi ini mencerminkan pergeseran preferensi investor global ke instrumen berisiko rendah di AS, sehingga mengurangi aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pelaku pasar saat ini mencermati arah kebijakan bank sentral AS yang dinilai masih akan mempertahankan suku bunga tinggi. Situasi tersebut memperkuat tekanan terhadap rupiah akibat potensi arus keluar modal atau capital outflow.

Berdasarkan data perbankan nasional, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menunjukkan kisaran Rp16.790 untuk kurs beli dan Rp16.830 untuk kurs jual. Sejumlah bank besar juga mencatat penyesuaian serupa, mencerminkan volatilitas di pasar valuta asing domestik.

Pergerakan ini mendorong pelaku usaha yang memiliki eksposur mata uang asing untuk melakukan lindung nilai atau hedging guna mengantisipasi risiko fluktuasi kurs.

“Pelemahan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter global yang restriktif, sehingga tekanan pada mata uang negara berkembang menjadi sulit dihindari,” kata analis pasar dari Indo Premier, sebagaimana dilansir Kontan, Selasa (28/04/2026).

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi domestik, terutama meningkatnya biaya impor akibat depresiasi mata uang. Hal ini berpotensi menekan daya beli dan memperbesar beban sektor usaha yang bergantung pada bahan baku impor.

Meski demikian, Bank Indonesia (BI) tetap optimistis nilai tukar rupiah dapat kembali stabil dalam jangka menengah. Proyeksi sebelumnya menunjukkan rupiah berpeluang menguat ke kisaran Rp16.400 per dolar AS apabila kondisi global membaik dan inflasi domestik tetap terkendali.

Dalam merespons volatilitas pasar, pelaku ekonomi disarankan untuk memperhatikan perkembangan data ekonomi global, melakukan diversifikasi aset, serta mencermati kebijakan intervensi moneter, termasuk melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Pemerintah bersama BI juga terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas valuta asing di pasar. Hingga sesi perdagangan berlangsung, rupiah masih bergerak di zona negatif dengan aktivitas transaksi yang relatif tinggi.

Dengan tekanan global yang masih kuat, arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan tetap fluktuatif, bergantung pada dinamika kebijakan suku bunga global dan sentimen pasar internasional. []

Penulis: Aditya Saputra | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *