Sebanyak 6.271 Koperasi Merah Putih di Jateng Sudah Jalan
SEMARANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) mencatat sebanyak 6.271 koperasi desa/kelurahan merah putih di wilayahnya telah aktif beroperasi hingga Mei 2026. Jumlah tersebut setara 73 persen dari total 8.523 koperasi yang sudah berbadan hukum di Jateng dan melampaui target nasional sebesar 60 persen.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop UKM) Jateng, Eddy Sulistiyo Bramiyanto, mengatakan Pemprov Jateng menargetkan seluruh koperasi merah putih dapat beroperasi penuh pada tahun ini.
“Kami ingin tahun ini mencapai 100 persen, itu upaya kami. Tapi kami sudah di atas target nasional. Target nasional kan 60 persen. Kita sudah 73 persen,” katanya saat menjadi pembicara dalam Workshop Media “Cerita Koperasi Desa Jadi Berita Bermakna” di Semarang, sebagaimana dilansir Antara, Rabu (07/05/2026).
Menurut Eddy, sejumlah koperasi yang belum berjalan optimal masih menghadapi tantangan terkait penentuan sektor usaha hingga sinergi antara pengurus koperasi dengan pemerintah desa maupun kelurahan.
“Teman-teman pengurus ini memang luar biasa. Mereka bekerja sebagai pejuang koperasi desa/kelurahan merah putih. Enggak pernah berpikir honor ya. Mereka jalan dulu yang penting melayani anggotanya,” ujarnya.
Selain fokus pada operasional, Pemprov Jateng juga mencatat total modal koperasi merah putih di daerah tersebut telah mencapai Rp34,6 miliar. Dana itu berasal dari simpanan pokok dan simpanan wajib anggota yang besarannya berbeda di setiap koperasi.
“Untuk simpanan pokok dan wajib itu kan beda-beda. Ada yang simpanan pokoknya Rp10.000, ada yang Rp5.000. Ada yang simpanan wajibnya Rp20.000, Rp30.000, Rp10.000. Jadi, modal itu yang akhirnya mereka putar,” katanya.
Eddy mendorong koperasi merah putih untuk mengembangkan usaha di sektor produktif dan riil agar perputaran modal lebih cepat serta mampu meningkatkan pendapatan anggota koperasi.
Ia mencontohkan perkembangan koperasi di Dadapsari yang dinilai berhasil mengembangkan usaha dari modal awal Rp500 ribu hingga mencapai Rp450 juta karena aktif melakukan distribusi barang kebutuhan anggota setiap hari.
“Seperti koperasi di Dadapsari. Dari awal Rp500.000, sekarang sudah Rp450 juta. Karena setiap hari mereka berproduksi, keliling barang-barang disampaikan pada anggota. Alhamdulillah sorenya uang kembali. Paginya kulakan lagi,” ujarnya.
Pemprov Jateng berharap peningkatan jumlah koperasi aktif dapat memperkuat ekonomi masyarakat desa dan kelurahan sekaligus mendorong pertumbuhan usaha mikro berbasis komunitas di berbagai wilayah. []
Penulis: Zuhdiar Laeis | Penyunting: Redaksi01
