Selat Hormuz Jadi Titik Rawan, Harga Minyak Masih di Atas US$95

TEHERAN – Selat Hormuz kembali menjadi titik perhatian pasar energi setelah jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintas pada Rabu (02/09/2026) turun jauh di bawah rata-rata. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran investor terhadap kelancaran distribusi minyak dunia di tengah meningkatnya kembali ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Data awal perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya empat kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu. Jumlah tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 13 kapal. Penurunan aktivitas pelayaran menjadi perhatian karena jalur tersebut merupakan salah satu rute penting perdagangan minyak dunia.

Ketidakpastian mengenai keamanan jalur pelayaran itu membuat pasar energi bergerak hati-hati. Harga minyak mentah Brent berjangka pada perdagangan Kamis (03/09/2026) turun 43 sen atau 0,45% menjadi US$95,20 per barel pada pukul 00.29 Greenwich Mean Time (GMT). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 24 sen atau 0,26% menjadi US$90,77 per barel.

Pergerakan tersebut terjadi setelah harga minyak mengalami volatilitas tinggi pada sesi sebelumnya. Kontrak Brent dan WTI sempat naik hingga sekitar US$2 per barel sebelum berbalik melemah sekitar US$1 per barel. Level tertinggi kedua kontrak pada sesi tersebut bahkan menjadi yang tertinggi sejak 24 Juli 2026.

Analis IG Tony Sycamore menilai pelemahan harga minyak antara lain dipengaruhi tanda-tanda sementara bahwa eskalasi terbaru antara AS dan Iran mulai mereda. Namun, situasi tersebut masih menyisakan ketidakpastian karena keberlangsungan jeda konflik belum dapat dipastikan.

“Jika jeda tersebut bertahan, dan itu masih menjadi pertanyaan besar, tidak akan lama sebelum pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dengan kapal yang menyamarkan identitas serta melalui transfer antarkapal kembali ke level yang terlihat pada akhir pekan lalu,” kata Sycamore dalam catatannya.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa arah harga minyak dalam jangka pendek tidak hanya ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan pasokan, tetapi juga oleh kondisi keamanan jalur distribusi. Selat Hormuz memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah ke pasar internasional.

Risiko tersebut semakin besar setelah Iran menambah daftar kapal yang dianggap tidak mematuhi aturan. Kapal-kapal yang masuk dalam daftar tersebut dapat dikenai denda, penyitaan, atau penahanan apabila mencoba melintasi Selat Hormuz.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer terbaru terhadap Iran tidak akan berlangsung terlalu lama. Trump juga mengatakan pasukan AS telah menyerang sistem radar dan rudal Iran.

“Kami menghancurkan seluruh peralatan baru yang mereka coba bangun di sepanjang Selat Hormuz, sebagian bersifat defensif dan sebagian ofensif. Itu adalah serangan yang sangat berat tadi malam, dan kami siap melakukan serangan lainnya kapan pun kami mau,” ujar Trump.

Pernyataan tersebut membuat risiko terhadap keamanan jalur pelayaran tetap menjadi perhatian pelaku pasar. Pasalnya, setiap gangguan terhadap aktivitas kapal di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi arus pengiriman minyak dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap harga energi global.

Pemerintah AS sebelumnya mengatakan sekitar 17 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz pada Senin (31/08/2026). Menurut AS, volume tersebut menjadi jumlah minyak mentah terbesar yang melewati jalur tersebut sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai.

Besarnya volume minyak yang bergantung pada jalur tersebut membuat setiap perubahan aktivitas pelayaran menjadi indikator penting bagi pasar. Jika ketegangan kembali meningkat dan menghambat lalu lintas kapal, kekhawatiran mengenai pasokan dapat kembali mendorong harga minyak naik.

Sebaliknya, apabila situasi keamanan membaik dan pelayaran kembali normal, tekanan terhadap harga minyak berpotensi mereda. Karena itu, investor akan terus mencermati perkembangan konflik AS-Iran serta aktivitas kapal di Selat Hormuz sebagai faktor utama yang dapat menentukan arah pasar minyak dalam waktu dekat, sebagaimana dilansir Kontan, Kamis, (03/09/2026). []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *