Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Tembus USD105 per Barel
epa01944859 An engineer works in the Liaohe River oil field in Xinmin, northeast China 25 November 2009. Conflicting data on falling consumption of petrol despite a huge boost in sales of passenger vehicles and new investment in overseas oilfields with drops in imports from some major producers has done little to dissuade markets that demand in China is a major factor behind crude oil price rises in recent weeks. EPA/MARK
JAKARTA – Lonjakan harga minyak dunia kembali terjadi di tengah memanasnya ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz, dengan minyak mentah Brent menembus USD105,07 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) mencapai USD95,85 per barel pada perdagangan Jumat (24/04/2026).
Kenaikan harga ini dipicu oleh meningkatnya risiko gangguan pasokan global akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Situasi tersebut membuat pasar energi global bereaksi cepat dengan mendorong harga minyak naik signifikan dalam sepekan terakhir.
Berdasarkan laporan yang dihimpun sebagaimana dilansir Xinhua, Jumat, (24/04/2026), harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik USD3,16 atau 3,1 persen di London ICE Futures Exchange. Sementara itu, minyak mentah WTI untuk pengiriman Juni meningkat USD2,89 atau 3,11 persen di New York Mercantile Exchange.
Ketegangan di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang memicu lonjakan harga. Jalur pelayaran strategis tersebut dilaporkan masih tertutup akibat kebuntuan antara AS dan Iran. Iran menolak melanjutkan negosiasi selama blokade laut oleh AS masih berlangsung, sedangkan pemerintah AS menuntut pembukaan penuh selat sebelum kesepakatan damai tercapai.
Kondisi ini diperburuk oleh laporan mundurnya salah satu negosiator utama Iran dari proses diplomasi, yang semakin menekan sentimen pasar energi global.
“Pasar harus menyesuaikan kembali ekspektasi. Seiring memudarnya harapan, realitas gangguan pasokan akan muncul, sehingga harga masih memiliki potensi kenaikan lebih lanjut. Jika tidak ada kemajuan yang dicapai, pasar akan semakin mati rasa terhadap kebisingan dan berita utama yang telah mendikte pergerakan harga baru-baru ini,” kata analis di ING dalam sebuah catatan.
Di sisi lain, eskalasi militer turut meningkatkan ketidakpastian. Presiden AS Donald Trump dilaporkan memerintahkan angkatan laut untuk meningkatkan operasi di kawasan tersebut, termasuk pembersihan ranjau laut dengan intensitas lebih tinggi.
“Selain itu, kapal-kapal penyapu ranjau kita sedang membersihkan Selat saat ini. Dengan ini saya memerintahkan agar aktivitas tersebut dilanjutkan, tetapi dengan intensitas tiga kali lipat!” kata Trump.
Laporan lain menyebutkan adanya peningkatan aktivitas militer, termasuk penyitaan kapal tanker yang dikaitkan dengan Iran oleh militer AS, serta aksi serupa dari pihak Iran terhadap kapal kargo di sekitar wilayah tersebut.
Situasi ini mempertegas bahwa faktor geopolitik masih menjadi penentu utama pergerakan harga energi global. Selama konflik belum mereda dan jalur distribusi utama minyak dunia belum kembali normal, harga minyak diperkirakan tetap berada dalam tren tinggi dengan volatilitas yang signifikan.[]
Penulis: Ade Hapsari Lestarini | Penyunting: Redaksi01
