Kurs Rupiah Melemah, Intervensi Ganda Dinilai Jadi Kunci

JAKARTA – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah mendorong kebutuhan respons cepat dari otoritas moneter dan fiskal, seiring pelemahan yang terus berlanjut akibat gejolak global dan faktor domestik.

Nilai tukar rupiah tercatat melemah 123 poin atau 0,72 persen menjadi Rp17.304 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (23/04/2026) pukul 13.32 WIB, dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.181 per dolar AS. Kondisi ini memicu dorongan agar Bank Indonesia (BI) dan pemerintah mengambil langkah strategis guna menjaga stabilitas ekonomi.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai intervensi ganda diperlukan untuk meredam tekanan pasar. BI diperkirakan akan mengoptimalkan operasi di pasar spot dan pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dengan memanfaatkan cadangan devisa sekitar USD148 miliar.

“Sementara pemerintah perlu memperketat disiplin fiskal guna menjaga kepercayaan investor jangka panjang,” ujar Sutopo sebagaimana diberitakan Jpnn, Kamis, (23/04/2026).

Menurut dia, pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor eksternal, tetapi juga kerentanan domestik. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait blokade Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga energi global dan inflasi, yang pada akhirnya memperkuat dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi memperbesar tekanan terhadap rupiah. Hal ini diperparah oleh arus modal keluar atau capital outflows akibat meningkatnya sentimen penghindaran risiko di pasar global.

Sutopo menjelaskan, arah pergerakan rupiah ke depan sangat bergantung pada dinamika global, terutama perkembangan konflik di Timur Tengah serta kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

“Selama ketidakpastian global masih tinggi, rupiah diperkirakan masih akan berada dalam tekanan jangka pendek hingga menengah,” katanya.

Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen.

“Stabilitas diperkirakan baru akan kembali setelah ketegangan global mereda dan pasar mulai melihat titik terang mengenai normalisasi harga komoditas energi dunia,” ujar dia.

Dengan kondisi tersebut, koordinasi kebijakan antara BI dan pemerintah dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.[]

Penulis: Elvi Robiatul | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *