Survei BI Catat Penjualan Rumah Turun di Semua Tipe pada Triwulan III
SABANG – Pasar properti residensial Indonesia menghadapi tekanan permintaan pada triwulan III 2026. Penjualan rumah di pasar primer tercatat mengalami kontraksi 8,43 persen secara tahunan (year on year/yoy), seiring penurunan penjualan yang terjadi pada seluruh segmen rumah.
Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) menunjukkan, pelemahan penjualan tersebut berlangsung ketika kenaikan harga rumah juga bergerak terbatas. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada periode yang sama hanya tumbuh 0,58 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan II 2026 sebesar 0,69 persen (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan perkembangan tersebut dalam keterangan yang diterima di Sabang, Aceh, Jumat (06/11/2026). Data survei memperlihatkan perlambatan harga terutama terjadi pada rumah tipe menengah dan besar.
Harga rumah tipe menengah mencatat pertumbuhan 0,63 persen (yoy), sedangkan tipe besar tumbuh 0,57 persen (yoy). Capaian tersebut melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang masing-masing tumbuh 0,83 persen dan 0,68 persen.
Sebaliknya, rumah tipe kecil justru menunjukkan penguatan. Indeks harga rumah tipe ini tercatat 114,14 dengan pertumbuhan 0,55 persen (yoy), meningkat dibandingkan triwulan II 2026 yang sebesar 0,49 persen.
Perbedaan perkembangan harga antartipe rumah tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak berlangsung seragam. Namun, penurunan penjualan di seluruh segmen mengindikasikan tantangan permintaan masih membayangi pasar hunian primer.
Dari sisi pembiayaan, pengembang masih mengandalkan dana internal perusahaan untuk membangun properti residensial. Porsi pendanaan dari sumber tersebut mencapai 73,94 persen dari total kebutuhan pembiayaan pembangunan.
Sementara itu, konsumen masih bergantung pada fasilitas kredit untuk memperoleh rumah. Skema kredit pemilikan rumah (KPR) mendominasi pembelian hunian di pasar primer dengan pangsa 70,68 persen dari keseluruhan metode pembayaran.
Data tersebut memperlihatkan dua sisi pembiayaan pasar properti: pengembang lebih banyak menggunakan modal sendiri, sedangkan konsumen mengandalkan pembiayaan perbankan. Kondisi ini membuat perkembangan daya beli masyarakat dan akses kredit menjadi faktor penting bagi pemulihan penjualan rumah.
Sebagaimana diberitakan Antara, Jumat (06/11/2026), hasil survei BI tersebut menggambarkan pertumbuhan harga properti yang masih terbatas di tengah kontraksi penjualan. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada kemampuan pasar menyerap pasokan hunian serta daya beli konsumen dalam mengakses pembiayaan perumahan. []
Redaksi01
