Trump Pasang Tarif Impor, Defisit Dagang AS Justru Membesar
BERLIN – Kebijakan tarif impor Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, belum mampu mengatasi persoalan mendasar perdagangan negara tersebut. Defisit perdagangan barang AS justru mencapai US$130 miliar pada Agustus 2026, lebih tinggi dibandingkan posisi dua tahun sebelumnya, meskipun pemerintah telah menerapkan berbagai pembatasan impor untuk melindungi industri dalam negeri.
Temuan German Economic Institute (IW) yang dikutip Reuters menunjukkan, kebijakan perdagangan Trump memang mulai mengubah komposisi mitra dagang AS. Namun, perubahan tersebut belum berbanding lurus dengan penurunan defisit perdagangan maupun keberhasilan mengembalikan aktivitas manufaktur ke dalam negeri.
Sebagaimana diwartakan IDN Financials, Minggu, (01/11/2026), laporan tersebut mengungkapkan bahwa porsi Uni Eropa dalam defisit perdagangan AS menyusut menjadi 7 persen pada Agustus 2026, dibandingkan 20 persen pada periode yang sama 2024. Kontribusi China juga turun dari 29 persen menjadi 14 persen.
Pergeseran tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan tarif telah memengaruhi arah perdagangan internasional AS. Akan tetapi, penurunan kontribusi sejumlah mitra dagang utama belum cukup untuk memperbaiki ketimpangan perdagangan secara keseluruhan.
Di sisi lain, sejumlah kebijakan ekonomi Trump menunjukkan hasil yang beragam. Pemangkasan pajak, pemberlakuan tarif impor, dan dorongan terhadap industri manufaktur domestik belum menghasilkan dampak yang sepenuhnya sesuai dengan target pemerintah.
Produk domestik bruto (PDB) AS masih menunjukkan pertumbuhan yang solid. Investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) juga berkembang pesat dan menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi.
Namun, penciptaan lapangan kerja masih tertinggal dibandingkan capaian pada masa pemerintahan sebelumnya. Tekanan inflasi pun belum berhasil dikendalikan hingga mencapai sasaran Federal Reserve (The Fed) sebesar 2 persen.
Persoalan lain terlihat dari rendahnya realisasi investasi asing langsung (FDI). Arus masuk FDI ke AS tercatat turun 8,2 persen menjadi US$248 miliar sepanjang 2025. Nilai tersebut juga 18 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata investasi pada periode 2015–2024.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa kebijakan tarif dan insentif ekonomi belum cukup kuat untuk meningkatkan daya tarik AS sebagai tujuan investasi manufaktur. Padahal, salah satu sasaran utama agenda ekonomi Trump adalah mendorong perusahaan memperluas produksi dan menciptakan lapangan kerja di dalam negeri.
Tekanan terhadap perekonomian AS juga datang dari meningkatnya beban fiskal. Laporan IW menyoroti konflik AS-Israel dengan Iran yang turut menambah tekanan terhadap utang publik, sekaligus mendorong kenaikan suku bunga.
Di tengah kondisi tersebut, para kreditur mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah AS mempertahankan keberlanjutan pembayaran utangnya yang telah mencapai US$40 triliun.
Besarnya utang, tingginya biaya pembiayaan, serta defisit perdagangan yang belum terkendali menjadi tantangan bagi pemerintahan Trump. Ke depan, efektivitas kebijakan tarif tidak hanya akan diukur dari perubahan hubungan dagang dengan negara mitra, tetapi juga dari kemampuannya meningkatkan produksi domestik, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperbaiki keseimbangan perdagangan AS. []
Redaksi01
