UEA Keluar dari OPEC, Harga Minyak Langsung Melonjak

HOUSTON – Lonjakan harga minyak dunia hingga menembus USD100 per barel pada Selasa (28/04/2026) dipicu eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta keputusan Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC), yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Berdasarkan data perdagangan, harga minyak Brent sebagai acuan global naik 2,5% menjadi USD104,18 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) melonjak 3,9% ke level USD100,16 per barel. Kenaikan ini terjadi di tengah minimnya kemajuan negosiasi antara AS dan Iran serta meningkatnya ketegangan di kawasan.

Keputusan UEA hengkang dari OPEC dan aliansinya OPEC+ (Organization of the Petroleum Exporting Countries Plus) dinilai sebagai faktor utama yang memperburuk ketidakpastian pasar. Langkah tersebut membuka peluang bagi UEA untuk meningkatkan produksi minyak tanpa terikat kuota organisasi, sekaligus memperlebar ketegangan dengan Arab Saudi yang selama ini menjadi pemimpin de facto OPEC.

“Keputusan UEA untuk keluar dari OPEC mencerminkan evolusi yang didorong oleh kebijakan yang selaras dengan fundamental pasar jangka panjang. Kami berterima kasih kepada OPEC dan negara-negara anggotanya atas kerja sama konstruktif selama beberapa dekade,” kata Menteri Energi dan Infrastruktur UEA Mohamed Al Mazrouei.

Selain faktor organisasi, gangguan distribusi energi juga dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur vital pengiriman minyak dunia. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya konflik militer, termasuk serangan terhadap pangkalan AS di kawasan tersebut.

Head of Financial Analysis AJ Bell Danni Hewson menilai keputusan UEA menjadi sinyal retaknya solidaritas dalam kartel minyak global. “Kesetiaan telah diuji dan hubungan lama menjadi tegang dan itu berkontribusi pada keputusan Uni Emirat Arab untuk keluar dari OPEC dan OPEC+ setelah hampir 60 tahun. Ini terasa sangat penting dan bisa menjadi celah yang pada akhirnya akan mengakhiri kartel tersebut, yang hingga kini tetap teguh meskipun terdapat banyak perbedaan pendapat dan tujuan strategis yang berbeda,” ujarnya.

Ia menambahkan, dampak jangka panjang terhadap harga minyak masih menjadi perhatian utama pasar global. “Apa arti keputusan ini bagi harga minyak global ke depannya akan menjadi fokus, terutama jika negara-negara lain di dunia mendorong lebih keras untuk beralih ke opsi energi lain,” tambah Hewson.

Di sisi lain, konflik antara AS dan Iran terus memanas. Presiden AS Donald Trump menyebut Iran berada dalam kondisi tertekan akibat blokade laut yang membatasi ekspor energi negara tersebut.

“Mereka ingin kita ‘Membuka Selat Hormuz’ sesegera mungkin, karena mereka mencoba mencari solusi untuk situasi kepemimpinan mereka (yang saya yakini akan dapat mereka lakukan!),” ujar Trump di media sosial, sebagaimana dilansir Investing, Rabu, (29/04/2026).

Pemerintah AS juga menyatakan bahwa produksi minyak Iran mulai menurun akibat tekanan tersebut, bahkan berpotensi mengalami penurunan lebih lanjut dalam waktu dekat. Sementara itu, pihak Iran tetap menolak blokade dan menyatakan aktivitas pelayaran masih berlangsung di wilayah tersebut.

Di tengah kondisi ini, pelaku pasar global kini mencermati perkembangan geopolitik serta agenda pertemuan bank sentral dunia yang berpotensi dipengaruhi lonjakan harga energi. Kenaikan harga minyak dikhawatirkan dapat memicu tekanan inflasi global dalam beberapa bulan ke depan. []

Penulis: Eko Nordiansyah | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *