Wall Street Ditutup Beragam, Investor Cermati Arah Suku Bunga The Fed

NEW YORK – Pergerakan Wall Street pada akhir September 2026 menunjukkan investor masih menimbang dua sinyal ekonomi Amerika Serikat (AS) yang berlawanan. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang lebih rendah dari perkiraan memberi ruang bagi pasar untuk meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), tetapi kenaikan imbal hasil US Treasury tetap menekan indeks saham utama.

Pada penutupan perdagangan Rabu (30/09/2026), Nasdaq Composite justru menguat 63,52 poin atau 0,24% menjadi 26.861,06. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average turun 443,87 poin atau 0,86% ke 50.906,05, sedangkan S&P 500 melemah 19,30 poin atau 0,25% menjadi 7.651,54, sebagaimana diwartakan Kontan, Kamis, (01/10/2026).

Perbedaan arah tersebut terjadi setelah Departemen Perdagangan AS melaporkan indeks PCE pada Agustus 2026 naik 3,4% secara tahunan. Angka itu berada di bawah perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,7%.

Data inflasi tersebut turut mengurangi kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga sekurang-kurangnya 25 basis poin pada pertemuan tersebut turun menjadi sekitar 37%, dari 51% pada sesi sebelumnya dan hampir 71% sepekan sebelumnya.

Namun, respons pasar tidak sepenuhnya positif karena imbal hasil US Treasury kembali meningkat. Imbal hasil surat utang AS tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, berbalik naik tipis menjelang penutupan. Sementara itu, imbal hasil tenor lebih panjang terus meningkat seiring ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi AS yang masih solid.

Investor juga mendapat sinyal dari revisi pertumbuhan ekonomi. Produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal II-2026 direvisi naik menjadi 2,2% secara tahunan, didukung konsumsi rumah tangga dan investasi yang kuat, termasuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Kenaikan harga minyak mentah akibat perang AS-Iran dan tingginya harga diesel sebelumnya turut memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury.

Anthony Saglimbene, Chief Market Strategist Ameriprise Financial, mengatakan perhatian investor kini tertuju pada kemampuan ekonomi AS mempertahankan pertumbuhan ketika suku bunga berada pada tingkat yang lebih tinggi.

“When the economy is growing, corporate earnings are strong, and there are structural growth themes, markets tend to look past higher rates,” kata Saglimbene.

Ia juga mengingatkan bahwa suku bunga yang bertahan tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan tekanan di pasar obligasi, membatasi ketersediaan kredit, serta memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan profitabilitas perusahaan.

Di sisi lain, perkembangan pasar tenaga kerja menjadi perhatian berikutnya menjelang laporan ketenagakerjaan pemerintah AS pada Jumat. Laporan ADP National Employment menunjukkan perusahaan swasta menambah 90.000 pekerjaan pada September, setelah kenaikan 36.000 pekerjaan pada Agustus yang sebelumnya direvisi lebih rendah.

Data ketenagakerjaan tersebut menjadi salah satu indikator yang akan dicermati pasar sebelum laporan payrolls pemerintah AS. Kondisi pasar tenaga kerja juga menjadi pertimbangan penting bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Gubernur The Fed Lisa Cook menyatakan bank sentral tetap berkomitmen menurunkan inflasi tanpa mengganggu pasar tenaga kerja. Menurutnya, tekanan harga masih berada pada tingkat yang terlalu tinggi dalam waktu yang terlalu lama.

Sementara itu, performa saham perusahaan teknologi membantu menjaga Nasdaq tetap berada di zona hijau. Microsoft, Apple, dan Nvidia menjadi penopang indeks sektor teknologi S&P 500 yang naik 0,6% dan menjadi sektor dengan kinerja terbaik dalam perdagangan tersebut.

Meski demikian, tekanan masih terlihat luas karena sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir melemah. Saham perusahaan berkapitalisasi besar dan perusahaan bertumbuh menjadi kelompok yang relatif menopang perdagangan.

Hewlett Packard Enterprise (HPE) menjadi salah satu saham yang mencatat kenaikan signifikan dengan menguat 3,9%. Pergerakan tersebut terjadi setelah perusahaan menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan jangka panjang untuk bisnis jaringan dan mengumumkan kesepakatan senilai US$1,2 miliar dengan Vultr.

Sebaliknya, Moderna (MRNA) turun 5,3% setelah Citigroup menurunkan rekomendasi saham perusahaan bioteknologi tersebut menjadi sell dari sebelumnya neutral.

Secara bulanan, September ditutup dengan pergerakan yang berbeda. S&P 500 turun 0,45%, Nasdaq Composite menguat 1,86%, sedangkan Dow Jones terkoreksi 4,29%. Penurunan Dow tersebut sekaligus mengakhiri tren penguatan selama lima bulan berturut-turut.

Meski demikian, kinerja kuartalan sejumlah indeks masih mencatat pertumbuhan. S&P 500 dan Nasdaq masing-masing membukukan kenaikan pada kuartal kedua berturut-turut dan menjadi kenaikan kelima dalam enam kuartal terakhir. Sementara itu, Dow Jones mencatat penurunan kuartalan untuk kedua kalinya dalam tiga kuartal.

Pergerakan pasar selanjutnya akan sangat dipengaruhi data ketenagakerjaan dan perkembangan inflasi karena keduanya menjadi bagian penting dalam pertimbangan The Fed menentukan kebijakan suku bunga. Investor kini menghadapi kombinasi pertumbuhan ekonomi yang masih kuat, inflasi yang belum sepenuhnya mereda, serta imbal hasil obligasi yang tetap tinggi. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *