Wall Street Tertekan, Investor Cemas Utang Perusahaan AI Membengkak
NEW YORK – Kekhawatiran terhadap kemampuan perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membiayai ekspansi bisnis, ditambah lonjakan harga minyak dan tekanan inflasi, memicu pelemahan tajam bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Indeks Nasdaq merosot 2,19% menjadi 26.128,13, sedangkan indeks Standard & Poor’s 500 (S&P 500) turun 1,22% ke level 7.649,71 dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,55% menjadi 51.891,77.
Tekanan paling menonjol terlihat pada saham perusahaan yang terkait dengan infrastruktur AI. Saham CoreWeave, perusahaan pusat data yang didukung Nvidia, anjlok 12% dalam satu sesi perdagangan. Penurunan itu memperbesar kerugian saham perusahaan tersebut menjadi sekitar 25% selama lima sesi terakhir. Obligasi CoreWeave juga menghadapi aksi jual tajam sepanjang pekan, mendorong imbal hasilnya melampaui 15%.
Pelemahan tersebut sebagaimana diberitakan Kontan, Sabtu, (17/10/2026), turut tercermin pada saham Broadcom yang turun 3,6%. Indeks semikonduktor Philadelphia Semiconductor Index (SOX) ikut melemah 2,5% dan berpotensi mencatat penurunan selama delapan hari perdagangan berturut-turut.
Investor mencemaskan kemampuan perusahaan infrastruktur AI yang memiliki beban utang besar untuk menghasilkan keuntungan dalam waktu yang cukup guna memenuhi kewajiban keuangannya. Risiko tersebut dinilai semakin besar apabila biaya pinjaman terus meningkat. Kekhawatiran serupa muncul setelah sejumlah investor Anthropic, termasuk calon investornya, dikabarkan mempertimbangkan valuasi yang lebih rendah untuk rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) perusahaan tersebut.
Selain persoalan pendanaan teknologi, lonjakan harga minyak mentah lebih dari 3% pada Jumat turut membebani sentimen pasar. Kenaikan harga komoditas energi itu dipicu kekhawatiran terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah, sekaligus menambah tekanan bagi perusahaan dan konsumen di tengah inflasi yang belum mereda.
Rob Haworth, ahli strategi investasi senior di US Bank Wealth Management yang berbasis di Seattle, mengatakan ketidakpastian membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
“Ada sejumlah kekhawatiran di pasar,” kata Haworth. “Harga minyak yang tinggi, khususnya, cenderung menekan rasio harga terhadap laba saham. Karena itu, saya pikir investor memilih bersikap hati-hati menjelang akhir pekan daripada mengambil risiko lebih besar,” ujarnya.
Tekanan bursa juga terlihat dari meluasnya penurunan saham. Sebanyak enam dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 berada di zona merah. Sektor jasa komunikasi mencatat pelemahan terdalam sebesar 2,52%, disusul sektor teknologi informasi yang turun 2,38%.
Secara mingguan, S&P 500 berada di jalur penurunan terbesar sejak Januari 2026, sedangkan Nasdaq berpotensi mencatat kemerosotan mingguan terdalam sejak Juni 2026. Di dalam S&P 500, jumlah saham yang turun melampaui saham yang menguat dengan rasio 1,3 banding 1. Nasdaq juga mencatat 263 saham pada level terendah baru, jauh lebih banyak dibandingkan 49 saham yang mencapai level tertinggi baru.
Pelemahan ini terjadi ketika perhatian investor mulai beralih ke musim laporan keuangan kuartal III-2026. Sejumlah perusahaan besar, termasuk Tesla, Meta Platforms, serta Procter & Gamble, dijadwalkan menyampaikan kinerja keuangan pada pekan berikutnya.
Berdasarkan data London Stock Exchange Group (LSEG), analis rata-rata memperkirakan laba perusahaan pada kuartal III-2026 meningkat lebih dari 30%. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang perusahaan teknologi berkapitalisasi pasar besar yang berkaitan dengan AI. Namun, ketergantungan terhadap kelompok saham teknologi membuat penguatan indeks utama belum sepenuhnya menggambarkan kondisi seluruh saham di pasar.
Sejak awal 2026, S&P 500 masih mencatat kenaikan sekitar 12%, tetapi median kenaikan saham-saham penyusunnya hanya sekitar 6%. Bahkan, sekitar 185 saham dalam indeks tersebut telah mengalami penurunan sejak awal tahun. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kinerja positif indeks masih terkonsentrasi pada kelompok saham tertentu.
Prospek pasar juga dipengaruhi perkembangan inflasi AS. Laporan inflasi konsumen dan produsen yang dirilis sepanjang pekan menunjukkan kenaikan harga lebih tinggi daripada perkiraan. Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan inflasi tidak hanya berasal dari energi, tetapi juga merambah komponen ekonomi lainnya.
Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, pada Jumat menyampaikan optimisme terhadap kekuatan ekonomi AS. Ia juga mengaku terkejut dengan ketahanan ekonomi global meskipun menghadapi guncangan energi berkepanjangan dan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi.
“Saya terkejut melihat seberapa baik perekonomian global mampu bertahan,” ujar Warsh, merujuk pada ketahanan ekonomi dunia di tengah tekanan tersebut.
Di tengah perkembangan inflasi itu, pelaku pasar semakin memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada Oktober 2026. Namun, Barclays memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada masing-masing Desember 2026 dan Januari 2027.
Perkembangan suku bunga, harga energi, serta kemampuan perusahaan AI membuktikan prospek keuntungan akan menjadi faktor penting bagi pergerakan pasar selanjutnya. Investor juga akan mencermati laporan keuangan emiten besar untuk menilai apakah pertumbuhan laba mampu menopang valuasi saham di tengah meningkatnya biaya pendanaan dan tekanan inflasi. []
Redaksi01
