Warga Serbu Pangan Murah di Probolinggo, Beras dan Minyakita Paling Diburu

PROBOLINGGO – Antrean warga memburu kebutuhan pokok mewarnai pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di kawasan Pasar Baru, Jalan Panglima Sudirman, Kota Probolinggo, Selasa (18/08/2026). Program Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo tersebut menawarkan sejumlah bahan pangan dengan harga lebih terjangkau sekaligus diarahkan untuk membantu menjaga stabilitas pasokan dan daya beli masyarakat.

Pelaksanaan GPM kali ini mendapat perhatian masyarakat sejak pagi. Minyak goreng, beras, dan telur menjadi sejumlah komoditas yang paling banyak diburu warga. Pemkot Probolinggo juga menerapkan pembatasan pembelian agar pasokan yang tersedia dapat dinikmati secara lebih merata.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kota Probolinggo Fitriawati mengatakan, GPM digelar secara rutin dua kali dalam sepekan dengan lokasi utama di kawasan Pasar Baru dan Wonoasih. Program tersebut tidak hanya menyediakan pangan dengan harga terjangkau, tetapi juga membuka ruang pemasaran bagi produk pangan lokal.

“GPM ini kami laksanakan rutin dua kali dalam seminggu, difokuskan di kawasan Pasar Baru dan Wonoasih. Beberapa komoditas yang disediakan juga berasal dari produksi lokal, seperti telur dan bawang merah. Untuk menjaga ketersediaan beras, kami juga menggandeng Bulog,” jelas Fitriawati.

Dalam pelaksanaan di Pasar Baru, DKPPP menyediakan 480 liter minyak goreng dalam kemasan satu dan dua liter. Selain itu, tersedia beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak satu ton dalam kemasan lima kilogram serta telur ayam broiler sebanyak 50 kilogram dengan kemasan satu kilogram.

Sejumlah harga yang ditawarkan dalam GPM antara lain beras SPHP Rp57.000 per kemasan lima kilogram, Minyakita kemasan dua liter Rp31.000, bawang merah Rp22.000 per kilogram, dan bawang putih Rp13.000 per setengah kilogram. Harga tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi warga karena dinilai dapat membantu menekan pengeluaran rumah tangga.

Untuk mencegah pembelian berlebihan, Pemkot Probolinggo memberlakukan batas pembelian pada sejumlah komoditas. Minyakita dibatasi maksimal dua liter per orang, sedangkan beras SPHP maksimal 10 kilogram atau dua kemasan lima kilogram.

Wali Kota Probolinggo Aminuddin turut meninjau pelaksanaan GPM bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Probolinggo Budiono Wirawan dan Kepala DKPPP Kota Probolinggo Fitriawati. Dalam peninjauan tersebut, Aminuddin menyapa warga yang mengantre dan berbelanja kebutuhan pokok.

Aminuddin mengatakan GPM menjadi salah satu instrumen Pemkot Probolinggo untuk menjaga daya beli sekaligus mengendalikan inflasi daerah. Program tersebut juga diarahkan agar pelaku usaha lokal memperoleh kesempatan memperluas pemasaran.

“GPM ini bertujuan mengendalikan inflasi, menjaga ketersediaan dan stabilitas pasokan kebutuhan pokok, sekaligus mendukung UMKM dan IKM lokal agar dapat memperluas pemasaran produknya secara langsung kepada masyarakat,” ujar Aminuddin.

Menurut Aminuddin, keseimbangan antara kepentingan masyarakat sebagai konsumen dan pedagang menjadi perhatian dalam pelaksanaan program. Karena itu, komoditas yang disediakan akan disesuaikan dengan perkembangan harga dan kondisi pasokan pangan yang berpengaruh terhadap inflasi.

“Yang terpenting adalah menjaga stabilitas. Pedagang tidak dirugikan, sementara masyarakat tetap mendapatkan harga yang stabil. Karena itu, komoditas dan jenis produk yang disediakan akan kami sesuaikan dengan kondisi serta komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi di pasaran,” katanya.

Pelaksanaan GPM juga menjadi sarana mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan produksi pangan lokal. Selain telur dan bawang merah, Pemkot Probolinggo menggandeng Perum Bulog untuk mendukung ketersediaan beras sehingga pasokan komoditas strategis tetap terjaga.

Salah seorang warga Jati, Lusiana, mengaku baru pertama kali memanfaatkan GPM yang digelar Pemkot Probolinggo. Ia menilai harga yang tersedia relatif lebih rendah sehingga membantu mengurangi beban pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari.

“Ini baru pertama kali saya membeli di stan pasar murah Pemkot. Harganya relatif murah dan cukup membantu. Kalau kegiatan seperti ini ada lagi, saya akan membeli di sini lagi karena bisa meringankan pengeluaran,” ungkapnya.

Sebagaimana diberitakan sumber berita pada Selasa (18/98/2026), pelaksanaan GPM di Pasar Baru menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap pangan dengan harga terjangkau. Ke depan, keberlanjutan program diharapkan tidak hanya membantu konsumen mendapatkan kebutuhan pokok, tetapi juga menjaga keseimbangan pasokan, harga, dan pemasaran produk pangan lokal di Kota Probolinggo. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *