5.000 Pohon Cabai Jadi Tumpuan, Petani Kutai Barat Panen Tiap Pekan

Lahan Perkebunan Cabai Milik Bapak Misran

Misran, petani cabai di Kampung Linggang Mencelew, Kubar, mampu memanen cabai setiap pekan dari 5.000 pohon yang dirawat di lahan seluas 7.500 meter persegi.

KUTAI BARAT – Petani cabai di Kampung Linggang Mencelew, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Misran, mampu mempertahankan panen rutin setiap pekan meski menghadapi cuaca yang tidak menentu. Dari lahan seluas sekitar 7.500 meter persegi, ia menanam sekitar 5.000 pohon cabai jenis maruyung yang menjadi sumber penghasilan utama dalam tiga tahun terakhir.

Saat ditemui di kebun miliknya, Selasa (12/05/2026), Misran mengatakan cabai dipilih karena memiliki masa panen lebih panjang dibandingkan tanaman sayur lainnya. Dengan perawatan yang tepat, tanaman cabai bisa bertahan hingga satu tahun.

Screenshot

“Kalau cabai ini masa panennya lebih lama dibanding sayur mayur lain. Bisa sampai satu tahun,” ujarnya.

Dari 5.000 pohon cabai tersebut, Misran dapat memanen sekitar 3 hingga 4 pikul dalam sekali panen. Panen dilakukan setiap satu minggu sekali, bergantung pada kondisi tanaman dan cuaca.

Menurut Misran, keberhasilan panen cabai tidak lepas dari perawatan sejak tahap awal pengolahan lahan. Ia menggunakan campuran pupuk kandang dari kotoran sapi dan ayam, serta trispodium fosfat (TSP) sebagai pupuk dasar tanaman.

Selain pemupukan, perawatan rutin juga dilakukan melalui penyemprotan insektisida dan fungisida. Langkah itu penting untuk menjaga tanaman tetap sehat, terutama ketika menghadapi musim hujan maupun kemarau ekstrem.

“Kita harus rajin-rajin merawat. Kalau musim hujan lebih fokus ke jamur, kalau kemarau lebih ekstra di inseknya,” jelasnya.

Meski cuaca kerap menjadi tantangan utama, Misran mengaku selama tiga tahun terakhir belum pernah mengalami gagal panen besar. Namun, ia tetap mewaspadai hujan berlebihan dan kemarau panjang karena keduanya dapat mengganggu pertumbuhan tanaman cabai.

Dari sisi harga, Misran menyebut cabai saat ini dijual di kisaran Rp50 ribu per kilogram. Menjelang hari besar, harga cabai bahkan bisa naik hingga Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per kilogram.

Bagi petani pemula, Misran berpesan agar tidak hanya mengandalkan semangat, tetapi juga menyiapkan modal dan ketekunan. Sebab, biaya perawatan cabai relatif lebih besar dibandingkan tanaman sayur lain.

“Yang penting semangat dan rajin merawat tanaman. Petani juga harus sering saling berbagi pengalaman,” pesannya. []

Penulis: Nia Ariska | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *