CIRAD dan PNM Satukan Riset dan Pemberdayaan Agroekonomi

JAKARTA – Kerja sama internasional kembali diperkuat dalam upaya mendorong pengembangan ekonomi berbasis pertanian berkelanjutan di Indonesia. Centre de coopération internationale en recherche agronomique pour le développement (CIRAD), lembaga riset agroekonomi asal Prancis, menjalin kemitraan strategis dengan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) untuk mengintegrasikan riset akademis ke dalam pengembangan usaha masyarakat prasejahtera.

Kolaborasi ini merupakan tindak lanjut dari riset sebelumnya yang dilakukan di Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, daerah yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi kakao untuk pasar ekspor. Melalui kerja sama ini, hasil penelitian tidak hanya berhenti pada tataran akademis, tetapi diarahkan agar dapat diterapkan secara langsung oleh pelaku usaha kecil, khususnya nasabah PNM Mekaar.

Presiden Direktur CIRAD, Elisabeth Claverie de Saint Martin, menilai kemitraan dengan PNM memiliki nilai strategis karena mampu mempertemukan pendekatan ilmiah dengan jaringan pemberdayaan ekonomi yang telah menjangkau masyarakat hingga tingkat desa.

“Kolaborasi ini sangat strategis karena menjembatani ilmu pengetahuan dengan jaringan pemberdayaan yang telah menjangkau hingga akar rumput. Kami melihat kemitraan ini membuka ruang bagi lahirnya inovasi yang dapat memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat prasejahtera,” ujar Elisabeth dalam keterangan tertulis, Kamis (05/02/2026).

Dari sisi PNM, kerja sama ini dipandang sebagai upaya memperkuat kualitas pendampingan kepada nasabah melalui pendekatan berbasis riset. Sekretaris Perusahaan PNM, Lalu Dodot Patria, menyebut hasil kolaborasi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan dan ketahanan usaha dalam jangka panjang.

“Penguatan berbasis riset ini menjadi langkah penting kami dalam terus berupaya meningkatkan kualitas pendampingan nasabah. Nilai tambah yang tercipta diharapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi, tetapi juga memperkuat keberlanjutan lingkungan serta ketahanan usaha dalam jangka panjang,” ujar Dodot.

Pada tahap awal, riset difokuskan pada peningkatan nilai jual biji kakao yang dihasilkan oleh nasabah Mekaar. Inovasi dilakukan mulai dari praktik budidaya hingga pengelolaan pascapanen agar kualitas produk dapat memenuhi standar pasar yang lebih luas. Tim peneliti CIRAD juga melakukan kunjungan lapangan ke unit Mekaar serta berdialog langsung dengan Account Officer (AO) dan petani kakao guna memperoleh gambaran menyeluruh mengenai tantangan dan peluang di lapangan.

Ke depan, ruang lingkup kerja sama diperluas ke penguatan sistem pertanian berkelanjutan dan agroforestri. Program ini mencakup transisi agroekologi, pertanian yang berketahanan terhadap perubahan iklim, serta pengembangan inovasi pascapanen. Tidak hanya sektor pertanian darat, kolaborasi juga menyasar akuakultur berkelanjutan dan mata pencaharian masyarakat pesisir melalui praktik ramah lingkungan, pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular, serta pemantauan kualitas air dan ekosistem.

Seluruh upaya tersebut diperkuat dengan integrasi pembiayaan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, seperti skema pembiayaan terintegrasi pertanian-akuakultur, pelatihan Training of Trainers (ToT), serta pelacakan dampak sosial dan ekonomi secara berkelanjutan.

Dengan jumlah nasabah PNM Mekaar di sektor pertanian yang mencapai sekitar 4.108.845 orang per Januari 2026, ekosistem pemberdayaan PNM dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi model pengembangan agroekonomi berbasis riset yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *