Ancaman Drone, Operasional Bandara Moskow Dihentikan
JAKARTA – Penutupan total operasional penerbangan terjadi di sejumlah bandara utama Moskow setelah rentetan serangan drone menghantam wilayah Rusia pada Minggu (22/02/2026). Kebijakan tersebut diambil otoritas setempat sebagai langkah antisipasi guna menjamin keselamatan penerbangan sipil di tengah meningkatnya ancaman dari udara.
Otoritas penerbangan sipil Rusia, Rosaviatsia, menyampaikan bahwa pembatasan lalu lintas udara diberlakukan di empat bandara internasional Moskow hingga waktu yang belum ditentukan. Keempat bandara itu adalah Bandara Domodedovo, Bandara Vnukovo, Bandara Zhukovsky, dan Bandara Sheremetyevo.
Dalam pernyataannya, Rosaviatsia menegaskan bahwa kebijakan tersebut diambil karena alasan keamanan, meskipun tidak merinci secara detail ancaman spesifik yang menjadi pertimbangan utama. Penutupan ini berdampak pada jadwal keberangkatan dan kedatangan penerbangan internasional maupun domestik yang melalui ibu kota Rusia.
Di sisi lain, Wali Kota Moskow, Sergey Sobyanin, mengungkapkan bahwa sistem pertahanan udara Rusia berhasil menggagalkan upaya serangan drone yang mengarah ke kota tersebut. “Pertahanan udara telah mencegat UAV lainnya yang terbang menuju Moskow,” kata Sobyanin dalam pernyataan via saluran Max miliknya.
Ia juga menambahkan, “Dengan demikian, jumlah total drone yang ditembak jatuh mencapai 11 unit.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa aparat pertahanan Rusia dalam kondisi siaga tinggi menyusul peningkatan intensitas serangan.
Penutupan bandara di Moskow menjadi salah satu langkah konkret pemerintah Rusia dalam merespons dinamika konflik yang masih berlangsung dengan Ukraina. Seiring perang yang telah memasuki tahun keempat, kedua negara dilaporkan terus melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal ke berbagai wilayah strategis.
Serangan drone dalam beberapa bulan terakhir disebut semakin sering menyasar infrastruktur penting di Rusia, termasuk kawasan sekitar ibu kota. Sementara itu, Rusia juga terus meningkatkan tekanan militer terhadap wilayah Ukraina melalui gelombang serangan udara.
Kebijakan pembatasan penerbangan ini mencerminkan sensitivitas tinggi terhadap ancaman keamanan udara di tengah situasi konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hingga kini, belum ada informasi resmi terkait kapan operasional bandara akan kembali normal.
Otoritas setempat meminta masyarakat dan maskapai penerbangan untuk memantau informasi terbaru dari pihak bandara serta mengikuti arahan resmi guna menghindari gangguan perjalanan lebih lanjut. Pemerintah Rusia menegaskan bahwa keselamatan warga dan pengguna transportasi udara menjadi prioritas utama dalam kondisi darurat semacam ini. []
Siti Sholehah.
