Tragedi Penerbangan Militer: F-16 Turki Jatuh
JAKARTA – Sebuah insiden militer kembali terjadi ketika jet tempur F-16 milik angkatan bersenjata Turki jatuh sesaat setelah lepas landas pada Rabu (25/02/2026) dini hari waktu setempat. Peristiwa ini menambah daftar kecelakaan pesawat tempur yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir di berbagai negara. Pilot yang mengawaki pesawat tersebut dinyatakan tewas.
Pesawat tempur itu diketahui lepas landas dari wilayah Balikesir pada pukul 00.56 waktu setempat. Namun, tak lama setelah mengudara, komunikasi radio serta sistem pelacakan terhadap pesawat tersebut tiba-tiba terputus. Hilangnya kontak memicu respons cepat dari otoritas militer yang segera mengerahkan tim pencarian dan penyelamatan ke area sekitar jalur penerbangan.
Setelah dilakukan penyisiran, puing-puing pesawat akhirnya ditemukan. Kementerian Pertahanan Turki memastikan bahwa pilot tidak selamat dalam kejadian tersebut.
“Pilot kita gugur. Penyebab kecelakaan akan ditentukan setelah penyelidikan oleh tim pemeriksa kecelakaan,” kata Kementerian Pertahanan Turki, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga pilot.
Hingga kini, penyebab pasti jatuhnya pesawat masih dalam tahap investigasi. Tim pemeriksa kecelakaan militer akan melakukan analisis menyeluruh terhadap rekaman komunikasi, data penerbangan, serta kondisi teknis pesawat sebelum insiden terjadi. Proses ini diperkirakan memerlukan waktu karena melibatkan evaluasi teknis dan operasional secara detail.
Insiden ini kembali menyoroti risiko tinggi dalam operasi penerbangan militer, bahkan pada fase awal penerbangan. Lepas landas merupakan salah satu tahap krusial yang menuntut kestabilan sistem mesin, navigasi, serta komunikasi yang optimal.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah kecelakaan yang melibatkan jet tempur F-16 juga terjadi di berbagai negara. Pesawat jenis ini diproduksi oleh perusahaan pertahanan asal Amerika Serikat, Lockheed Martin, dan telah lama digunakan oleh banyak angkatan udara di dunia.
Pada Januari lalu, sebuah F-16 milik Taiwan dilaporkan jatuh ke laut saat menjalankan misi rutin. Pilotnya sempat melontarkan diri di lepas pantai, namun kemudian dinyatakan hilang. Sementara itu, pada Agustus tahun lalu di Polandia, sebuah F-16 jatuh ketika menjalani latihan untuk pertunjukan udara, yang juga menewaskan pilotnya.
Selain itu, pada November tahun sebelumnya, otoritas Turki sempat menghentikan sementara operasional pesawat kargo C-130 setelah salah satu unitnya jatuh di Georgia saat kembali dari Azerbaijan. Seluruh 20 orang di dalam pesawat tersebut dilaporkan tewas.
Rangkaian peristiwa ini menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan dan prosedur operasional penerbangan militer. Meski jet tempur modern dilengkapi teknologi canggih, faktor teknis maupun nonteknis tetap dapat memicu kecelakaan.
Pihak militer Turki kini berfokus pada investigasi guna memastikan penyebab insiden terbaru ini. Hasil penyelidikan diharapkan dapat memberikan kejelasan sekaligus menjadi bahan perbaikan untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang. []
Siti Sholehah.
