Inggris Siap Dukung Pertahanan Arab Saudi

JAKARTA – Pemerintah Inggris menyatakan kesiapan untuk membantu memperkuat pertahanan Arab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer saat melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada Jumat (06/03/2026) waktu setempat.

Percakapan kedua pemimpin tersebut berlangsung di tengah situasi kawasan yang semakin memanas setelah konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus berkembang. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Republik Islam Iran dan memicu eskalasi yang melibatkan sejumlah negara di kawasan Teluk.

Konflik yang telah berlangsung selama beberapa hari itu tidak hanya berdampak pada sektor keamanan, tetapi juga menimbulkan gangguan terhadap sektor energi dan transportasi di kawasan. Sejumlah negara di sekitar Teluk juga dilaporkan menjadi sasaran serangan dalam beberapa hari terakhir.

Arab Saudi, misalnya, melaporkan telah berhasil mencegat sebuah rudal jelajah serta tiga unit drone pada Jumat (06/03/2026). Insiden tersebut menunjukkan meningkatnya ancaman keamanan di wilayah tersebut.

Dalam pembicaraan dengan Mohammed bin Salman, Perdana Menteri Inggris menyampaikan komitmen negaranya untuk memberikan dukungan apabila Arab Saudi membutuhkan bantuan dalam mempertahankan wilayahnya.

Starmer berbicara dengan MBS dan meyakinkannya bahwa “Inggris siap mendukung pertahanan Kerajaan Arab Saudi jika diperlukan,” demikian disampaikan juru bicara PM Inggris.

Selain menyatakan dukungan pertahanan, kedua pemimpin juga membahas langkah-langkah peningkatan kerja sama di bidang intelijen. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat operasi pertahanan sekaligus melindungi masyarakat sipil di tengah konflik yang masih berlangsung.

“Para pemimpin juga membahas peningkatan kerja sama intelijen untuk mendukung operasi pertahanan dan melindungi warga sipil,” kata juru bicara tersebut.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan kawasan, Inggris sebelumnya juga telah menambah kekuatan militernya di Timur Tengah. Pemerintah Inggris dilaporkan mengirimkan empat jet tempur Typhoon tambahan ke Qatar untuk mendukung operasi pertahanan di wilayah tersebut.

Selain itu, Inggris juga berencana mengerahkan kapal perusak pertahanan udara HMS Dragon. Kapal perang tersebut diperkirakan akan mulai berlayar menuju kawasan Timur Tengah pada pekan mendatang.

Ketegangan di kawasan juga meningkat setelah pangkalan angkatan udara Inggris yang berada di Siprus dilaporkan menjadi target serangan drone pada awal pekan ini. Drone tersebut diduga merupakan buatan Iran.

Menurut pemerintah Siprus, drone yang menyerang pangkalan tersebut kemungkinan diluncurkan dari wilayah Lebanon oleh kelompok yang bersekutu dengan Iran, yakni Hizbullah.

Di dalam negeri Inggris, respons pemerintah terhadap konflik di Timur Tengah juga menuai kritik dari sejumlah pihak oposisi. Mereka menilai Perdana Menteri Keir Starmer dinilai terlalu lambat dalam mengambil langkah terkait situasi yang berkembang di kawasan tersebut.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat menyampaikan bahwa pihaknya optimistis dapat menguasai wilayah udara Iran dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam keterangannya kepada wartawan.

“Saya tahu ada sejumlah orang yang sedang dipertimbangkan oleh badan intelijen kami dan pemerintah Amerika Serikat, tetapi saya tidak akan membahas lebih lanjut tentang itu,” kata Leavitt.

Ia juga menegaskan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak akan menyepakati perjanjian apa pun dengan Iran kecuali negara tersebut menyatakan penyerahan tanpa syarat.

“Yang dimaksud Presiden adalah bahwa ketika dia, sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata AS, menentukan bahwa Iran tidak lagi menimbulkan ancaman bagi Amerika Serikat, dan tujuan Operasi Epic Fury telah sepenuhnya tercapai, maka Iran pada dasarnya akan berada di posisi penyerahan tanpa syarat, terlepas dari apakah mereka mengatakannya sendiri atau tidak,” kata Leavitt.

Perkembangan tersebut menunjukkan konflik di Timur Tengah masih berpotensi meluas, dengan keterlibatan sejumlah negara besar yang terus memperkuat posisi militernya di kawasan. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *