Trump Sebut Lonjakan Harga Minyak Dampak Kecil Perang

WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi kenaikan harga minyak dunia yang terjadi setelah meningkatnya konflik militer di Timur Tengah. Trump menilai lonjakan harga energi tersebut hanya bersifat sementara dan tidak sebanding dengan tujuan keamanan yang ingin dicapai melalui operasi militer terhadap Iran.

Sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat tajam. Konflik tersebut berdampak langsung pada pasar energi global, terutama harga minyak mentah yang melonjak hingga menembus lebih dari 100 dolar Amerika Serikat per barel.

Meski demikian, Trump menilai kenaikan harga tersebut bukan masalah besar. Menurutnya, dampak ekonomi tersebut merupakan konsekuensi kecil dibandingkan dengan upaya menghentikan ancaman nuklir Iran.

Trump menyampaikan pandangannya tersebut melalui unggahan di media sosial Truth Social. Ia menegaskan bahwa harga minyak yang meningkat hanya bersifat jangka pendek dan diyakini akan kembali turun setelah konflik mereda.

“Harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar bagi AS, dan Dunia, dan Keamanan dan Perdamaian,” tulis Trump dalam pernyataan via Truth Social.

Trump bahkan menegaskan bahwa hanya pihak yang tidak memahami situasi yang akan berpikir sebaliknya.

“HANYA ORANG BODOH YANG AKAN BERPIKIR SECARA BERBEDA,” ucap Presiden AS tersebut.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah memang terus meningkat sejak serangan awal yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan tersebut memicu respons keras dari Teheran yang kemudian melancarkan serangan balasan ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.

Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi krisis yang lebih luas dengan melibatkan berbagai negara di kawasan. Situasi ini turut memicu kekhawatiran di pasar global, khususnya terkait potensi lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi.

Salah satu faktor utama yang memicu kenaikan harga minyak adalah terganggunya jalur distribusi energi di Selat Hormuz. Jalur perairan sempit tersebut merupakan salah satu rute paling penting bagi perdagangan minyak dunia karena biasanya dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak global.

Penutupan jalur tersebut menyebabkan gangguan besar terhadap pengiriman minyak mentah dari negara-negara produsen di Timur Tengah. Selain itu, sejumlah fasilitas energi di kawasan juga menjadi sasaran serangan sehingga memperburuk situasi pasokan.

Akibat kondisi tersebut, beberapa negara produsen minyak di Timur Tengah mulai mengurangi produksi mereka. Negara seperti Kuwait dan Uni Emirat Arab dilaporkan menurunkan tingkat produksi karena fasilitas penyimpanan mereka cepat penuh setelah pengiriman minyak terhambat akibat penutupan Selat Hormuz.

Irak juga dilaporkan mulai menghentikan sebagian aktivitas produksinya pada pekan lalu sebagai dampak dari situasi keamanan yang tidak stabil di kawasan tersebut.

Situasi konflik yang semakin meluas membuat lebih dari selusin negara terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam krisis tersebut. Namun demikian, Trump justru memberi sinyal bahwa Amerika Serikat tidak akan mengurangi tekanan terhadap Iran.

Dalam unggahan lain di media sosial pada Sabtu (07/03/2026), Trump menyatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat bahkan mempertimbangkan kemungkinan serangan terhadap wilayah atau kelompok di Iran yang sebelumnya tidak masuk dalam daftar target militer.

Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya tidak akan mundur menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Di tengah konflik tersebut, Iran juga baru saja mengumumkan Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut. Garda Revolusi Iran pun menyatakan kesetiaan mereka kepada pemimpin tertinggi yang baru.

Situasi geopolitik yang memanas ini diperkirakan masih akan memengaruhi pasar energi global dalam waktu yang belum dapat dipastikan. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *