IEA Intervensi Pasar Energi dengan 400 Juta Barel Minyak
JAKARTA – Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memutuskan untuk melepaskan cadangan minyak darurat dalam jumlah besar guna meredam dampak gangguan pasokan energi global. Keputusan tersebut diambil menyusul meningkatnya ketegangan akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu gejolak di pasar minyak dunia.
Langkah yang disepakati adalah pelepasan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis negara-negara anggota. Jumlah tersebut menjadi pelepasan cadangan terbesar sepanjang sejarah lembaga energi internasional itu.
IEA merupakan organisasi yang beranggotakan sejumlah negara maju di kawasan Eropa, Amerika Utara, serta Asia Timur Laut. Lembaga ini didirikan pada tahun 1974 dengan tujuan utama menjaga stabilitas dan keamanan pasokan energi global, terutama saat terjadi gangguan besar di pasar minyak dunia.
Keputusan pelepasan cadangan strategis tersebut diambil secara bulat oleh negara-negara anggota IEA. Kebijakan ini diharapkan mampu menekan tekanan yang muncul di pasar energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi jalur distribusi minyak global.
“Konflik di Timur Tengah berdampak signifikan pada pasar minyak dan gas global, dengan implikasi besar bagi keamanan energi, keterjangkauan energi, dan ekonomi global untuk minyak. Saya sekarang dapat mengumumkan bahwa negara-negara anggota IEA dengan suara bulat memutuskan untuk melepas stok minyak darurat terbesar dalam sejarah lembaga kami,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dikutip dari CNBC, Kamis (12/03/2026).
Saat ini, negara-negara anggota IEA diketahui memiliki cadangan minyak darurat publik lebih dari 1,2 miliar barel. Selain itu, terdapat sekitar 600 juta barel tambahan yang disimpan oleh sektor industri sebagai bagian dari kewajiban cadangan energi yang ditetapkan oleh pemerintah masing-masing negara.
Cadangan tersebut menjadi salah satu instrumen utama untuk meredam krisis pasokan energi global ketika terjadi gangguan besar, seperti konflik geopolitik atau bencana yang memengaruhi produksi dan distribusi minyak.
Meski keputusan pelepasan cadangan telah diumumkan, IEA belum menentukan secara rinci jadwal kapan minyak tersebut akan mulai masuk ke pasar global. Organisasi tersebut menyatakan bahwa proses pelepasan akan disesuaikan dengan kebijakan serta kondisi masing-masing dari 32 negara anggotanya.
Dengan demikian, setiap negara anggota akan menentukan mekanisme serta waktu pelepasan cadangan berdasarkan kebutuhan pasar dan kondisi pasokan energi domestik mereka.
“Pelepasan ini dirancang untuk mengatasi dampak langsung dari gangguan pasokan. Tetapi lalu lintas kapal tanker harus dilanjutkan melalui Selat Hormuz untuk mengembalikan aliran minyak dan gas yang stabil ke pasar global,” ujar Birol.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah melewati perairan tersebut sebelum menuju pasar global. Gangguan aktivitas pelayaran di wilayah itu berpotensi menimbulkan lonjakan harga energi secara signifikan.
Sementara itu, beberapa negara anggota IEA mulai menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi dalam pelepasan cadangan minyak tersebut. Salah satunya adalah Jepang yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi bahkan menyampaikan bahwa pemerintahnya berencana melepas sebagian cadangan minyak nasional dalam waktu dekat guna membantu menstabilkan pasar energi global.
Langkah pelepasan cadangan minyak ini diharapkan dapat meredam gejolak harga sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi tetap terjaga di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. []
Siti Sholehah.
