GIAA Bangkit! Harga Saham Garuda Melonjak Usai Keluar dari Pemantauan Khusus
JAKARTA – Perdagangan saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) kembali normal di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan langsung memicu lonjakan harga signifikan, menandai optimisme pasar terhadap proses pemulihan kinerja perusahaan setelah restrukturisasi panjang.
Kembalinya saham GIAA ke mekanisme perdagangan reguler efektif sejak 26 Maret 2026 menjadi indikator penting perubahan persepsi investor. Sebelumnya, saham maskapai pelat merah tersebut diperdagangkan melalui mekanisme Full Call Auction (FCA) saat masih berada dalam papan pemantauan khusus.
Manajemen Garuda Indonesia menyatakan, perubahan status tersebut merupakan hasil dari transformasi internal yang telah dijalankan dalam beberapa waktu terakhir. “Pasar merespons positif langkah perbaikan kinerja manajemen baru Garuda Indonesia,” jelas manajemen dalam keterangan tertulis pada Jumat (27/3/2026), sebagaimana dilansir Money, Jumat, (27/03/2026).
Selain itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga telah menghapus notasi khusus “E” pada saham GIAA yang sebelumnya disematkan akibat kondisi ekuitas negatif. Penghapusan ini menegaskan bahwa kondisi keuangan perusahaan mulai membaik.
Data RTI Business menunjukkan hingga pukul 09.35 WIB, harga saham GIAA melonjak 21,92 persen ke level Rp89 per lembar dan sempat menyentuh Rp96. Kenaikan tersebut bahkan mencapai batas atas auto reject (ARA), mencerminkan tingginya minat beli investor.
Perbaikan fundamental menjadi pendorong utama sentimen positif ini. Pada 2025, ekuitas Garuda Indonesia berbalik menjadi positif sebesar 91,9 juta dolar AS atau sekitar Rp1,52 triliun, setelah sebelumnya tercatat negatif hingga 1,35 miliar dolar AS.
Namun demikian, perusahaan masih membukukan rugi bersih sebesar 322,4 juta dolar AS pada 2025. Penurunan pendapatan sekitar 5,85 persen secara tahunan menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja keuangan.
Manajemen menegaskan, tahun 2026 akan menjadi fase percepatan pemulihan atau turnaround. “Garuda Indonesia menempatkan tahun 2026 sebagai titik akselerasi pemulihan kinerja perusahaan,” kata Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia Glenny Kairupan.
Strategi yang disiapkan mencakup optimalisasi rute penerbangan, penambahan armada, efisiensi operasional, serta penguatan transformasi digital guna meningkatkan daya saing di industri penerbangan.
Dengan perubahan status perdagangan dan respons positif pasar, langkah pemulihan Garuda Indonesia dinilai mulai menunjukkan arah yang lebih jelas, meski tantangan kinerja keuangan masih perlu diatasi ke depan. []
Penulis: Donny Setiawan | Penyunting: Redaksi01
