Harga Minyak Goreng Bergejolak, Diskon Ritel hingga 45% Jadi Penyelamat
JAKARTA – Fluktuasi harga minyak goreng menjelang akhir Maret 2026 memunculkan disparitas signifikan antara pasar tradisional dan ritel modern, dengan sebagian wilayah mengalami kenaikan harga, sementara jaringan ritel justru menawarkan potongan hingga 45 persen guna menjaga daya beli masyarakat.
Kondisi ini terjadi pada Sabtu (28/03/2026) di berbagai daerah di Indonesia, dipicu oleh kombinasi distribusi bantuan pangan, program promosi akhir pekan Jumat Sabtu Minggu (JSM), serta tekanan global terhadap harga minyak mentah yang berdampak pada komoditas turunan kelapa sawit.
Berdasarkan pantauan data harga pangan terbaru, minyak goreng kemasan di sejumlah pasar tradisional mengalami kenaikan tipis, sementara ritel modern seperti Superindo, Tip Top, dan Indomaret memberikan diskon besar untuk menarik konsumen. Fenomena ini menciptakan perbedaan harga yang cukup tajam antar saluran distribusi.
Di sisi lain, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional terus memantau pergerakan harga agar tetap berada dalam batas kewajaran. Lonjakan harga global minyak mentah disebut mulai memberikan efek domino terhadap harga minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) yang menjadi bahan baku utama minyak goreng.
Sejumlah laporan daerah menunjukkan kondisi yang kontras. Di Kabupaten Garut, misalnya, terdapat komoditas yang mengalami penurunan harga antara 0,59 persen hingga 1,74 persen, namun sebagian lainnya justru melonjak hingga 32,6 persen dalam waktu singkat. Ketimpangan ini berdampak pada ketidakpastian harga di tingkat pedagang dan konsumen rumah tangga.
Beberapa jenis minyak goreng di pasar tradisional bahkan dilaporkan dijual melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, dengan selisih berkisar Rp325 hingga Rp5.735 per liter. Kondisi ini umumnya dipicu oleh panjangnya rantai distribusi serta kendala logistik, terutama di wilayah pelosok.
Sementara itu, ritel modern memanfaatkan momentum promo JSM dengan memberikan diskon tidak hanya pada minyak goreng, tetapi juga komoditas lain seperti daging ayam dan ikan segar. Langkah ini dinilai efektif dalam menjaga konsumsi masyarakat di tengah tekanan harga di tingkat distributor, sebagaimana dilansir Momsmoney Kontan, Sabtu (28/03/2026).
Untuk meredam gejolak harga, pemerintah melalui Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum BULOG) mempercepat penyaluran bantuan pangan kepada sekitar 33,2 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP). Setiap penerima mendapatkan 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng untuk alokasi Februari dan Maret 2026.
Distribusi difokuskan pada wilayah dengan tantangan logistik tinggi, termasuk daerah kepulauan. Program ini diharapkan mampu menekan permintaan di pasar reguler sehingga harga dapat kembali stabil dan inflasi pangan tetap terkendali.
Di tengah situasi tersebut, perubahan kebijakan kerja seperti penerapan Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara setiap Jumat mulai April 2026 juga diperkirakan memengaruhi pola konsumsi rumah tangga. Peningkatan aktivitas memasak di rumah berpotensi mendorong permintaan minyak goreng kemasan.
Secara global, fluktuasi harga energi turut menjadi faktor penentu. Kenaikan harga minyak mentah meningkatkan biaya produksi dan distribusi CPO, yang berimbas langsung pada harga minyak goreng domestik.
Dengan kondisi yang masih dinamis, masyarakat diimbau untuk berbelanja secara bijak, membandingkan harga antar saluran distribusi, serta tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying yang justru berpotensi memperparah gejolak harga di pasar. []
Penulis: Salsabila Putri | Penyunting: Redaksi01
