Kenaikan Harga Ayam 2026, Peternak dan Konsumen Sama-sama Tertekan

JAKARTA – Lonjakan harga ayam potong di sejumlah pasar tradisional pada Jumat (27/03/2026) mendorong konsumen mengubah pola belanja sekaligus memicu perhatian pemerintah terhadap stabilitas harga pangan hewani. Kenaikan harga dipengaruhi tingginya permintaan serta belum stabilnya biaya produksi di tingkat peternak.

Di berbagai daerah, harga ayam potong menunjukkan fluktuasi signifikan dan bahkan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Kondisi ini membuat komoditas unggas menjadi salah satu indikator sensitif dalam mengukur tekanan inflasi pangan di tingkat rumah tangga.

Di Kabupaten Garut (Garut), berdasarkan data bahan pokok penting (bapokting) dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Garut, terdapat sejumlah komoditas yang harganya melampaui HET dengan selisih antara Rp325 hingga Rp9.667 per kilogram. Fenomena ini memperlihatkan adanya tekanan biaya distribusi dan produksi yang belum sepenuhnya terkendali.

Sementara itu, di Kota Batam (Batam), harga komoditas pendukung seperti cabai merah juga tercatat tinggi, berkisar antara Rp70.000 hingga Rp80.000 per kilogram. Kenaikan ini turut memperbesar beban pengeluaran masyarakat karena berdampak langsung pada biaya pengolahan lauk berbahan dasar ayam, sebagaimana diwartakan Media Indonesia, Jumat, (27/03/2026).

Secara umum, harga beberapa komoditas pangan di Batam tercatat antara lain daging sapi beku impor Rp130.000 per kilogram, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Rp12.500 per kilogram, beras premium Rp16.000 per kilogram, serta minyak goreng subsidi Rp15.700 per liter. Data ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya terjadi pada ayam, tetapi juga pada komoditas lain yang saling berkaitan dalam konsumsi rumah tangga.

Di sisi hulu, peternak menghadapi tantangan peningkatan biaya pakan. Untuk menekan biaya produksi, sebagian peternak mulai memanfaatkan bahan alternatif seperti dedak padi atau bekatul. Penggunaan pakan ini memerlukan pengujian kualitas melalui metode sederhana menggunakan larutan kimia seperti phloroglucinol, ethanol, dan HCl, guna memastikan kadar serat tetap sesuai standar.

Upaya efisiensi di tingkat peternak tersebut diharapkan mampu menekan harga jual di pasar. Namun, dalam jangka pendek, dampaknya belum sepenuhnya terasa karena rantai distribusi dan permintaan pasar masih menjadi faktor dominan dalam pembentukan harga.

Di tengah kondisi ini, konsumen mulai mencari strategi belanja yang lebih efisien. Sejumlah ritel modern memanfaatkan momentum akhir pekan dengan menghadirkan program promo Jumat Sabtu Minggu (JSM) berupa diskon produk pangan, termasuk ayam dan telur. Langkah ini menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau dibandingkan pasar tradisional.

Selain itu, konsumen juga mulai mengubah preferensi belanja, seperti memilih ayam utuh dibandingkan potongan fillet, memanfaatkan aplikasi pemantau harga, hingga menyimpan stok dalam jumlah terbatas untuk kebutuhan jangka pendek guna menghindari pemborosan.

Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional terus memantau pergerakan harga serta melakukan intervensi pasar jika diperlukan. Stabilitas pasokan dan distribusi menjadi fokus utama agar lonjakan harga tidak berlanjut dalam jangka panjang.

Dengan kondisi harga yang masih fluktuatif, masyarakat diimbau tetap rasional dalam berbelanja dan tidak melakukan panic buying. Pengendalian konsumsi serta pemanfaatan program subsidi diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan pengeluaran rumah tangga di tengah tekanan harga pangan saat ini. []

Penulis: Rizky Mahendra | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *